Mastering (your) Workplace
"Everything is easy once you know how..."
Dalam suatu diskusi sore hari bersama Pak Pri Notowidigdo - partner, sepuh Amrop Indonesia yang senantiasa saya anggap sebagai guru, mentor dan 'ayah', kami ngobrol soal current issues dunia ketenagakerjaan Indonesia. Pengalaman saya sebagai headhunter sejak 1996 terasa amat minim dibandingkan beliau yang sudah mulai berburu eksekutif sejak awal '80-an. Ada satu topik dalam obrolan itu yang menginspirasikan saya untuk menulis artikel ini. Isinya, kalau dirangkumkan dalam pertanyaan-pertanyaan adalah: mengapa begitu sulit memberikan pemahaman pada sebagian profesional bahwa karier tidak sama dengan job? Dan, mengapa pekerjaan senantiasa hanya dilihat sebagai tempat mencari uang and nothing else?
Pak Pri dan saya meyakini bahwa pekerjaan (job) adalah sekadar satu tempat pemberhentian dalam perjalanan panjang yang disebut sebagai karier. Ini bagian dari credo yang senantiasa kami teriakkan: "your job is not your career". Tempat pemberhentian bisa bermakna apabila kita memanfaatkannya dengan tepat dan baik. Dalam satu pemberhentian bisa diperoleh perbekalan, pelajaran, dan kontak yang berguna bagi perjalanan. Sebaliknya, apabila tempat pemberhentian hanya dipandang sebagai sofa empuk di hadapan TV 54 inch dan disamping meja besar berisikan banyak kudapan, tentu hanya rasa nyaman yang diperoleh. Sofa tadi adalah metafora untuk comfort zone.
Kuasai urusan karier sebelum menguasai urusan pekerjaan
Mayoritas problem soal karier yang seringkali ditanyakan kepada CareerCoach adalah persoalan taktis, seperti bagaimana cara menghadapi kebosanan di tempat kerja? Apa yang harus dilakukan kalau jabatan dan/atau gaji mandeg? Atau, harus bagaimana kalau uang dan beban kerja tidak seimbang? Bagaimana juga kalau bos bodoh? Dan, lingkungan kerja tidak mendukung?
Tidak ada yang salah dengan pertanyaan-pertanyaan seputar pekerjaan tersebut. Namun, jawaban apa pun akan lebih pas setelah pertanyaan-pertanyaan kunci soal karier terjawab. Jawab dulu dua pertanyaan ini: What is your passion? What is your purpose of life? Sebelum bisa menguasai urusan job, kuasai dulu urusan karier.
If you can't change the solution, change the problem!
Bagaimana menghadapi kebosanan di tempat kerja? Jawaban saya: Tanya dulu kepada diri sendiri kenapa bisa bosan dan hal-hal apa yang membuat bosan? Apakah sudah punya gagasan soal passion dan purpose of life? Kalau sudah, apakah pekerjaan yang dilakoni sekarang sudah sejalan dengan keduanya? Kalau belum tahu, hal-hal apa yang bisa dilakukan untuk mendekatkan diri dengan passion sekaligus mengejar purpose of life Anda? Try and do everything and learn from the process. No one can be bored by having a clear idea in mind and action!
Bagaimana kalau jabatan dan/atau gaji mandeg? Jawaban saya: Mengapa kerja hanya untuk uang dan jabatan? Great money always follows great works. Apakah Anda sudah mengerjakan atau menjadi bagian dari sesuatu hal yang luar biasa (great)? Kalau belum, kenapa tidak mencari dan mengupayakannya? Pikirkan kontribusi terbesar dan bermakna yang bisa Anda berikan. Never expect smooth sailing in job, chaos unlocks opportunity. Dalam ekspresi lain, lebih banyak Jendral muncul dalam kondisi perang dibandingkan keadaan damai. Temukan dan bergabung di tempat-tempat dan hal-hal yang perlu kontribusi dan peran Anda secara mutlak. Worry less, do more!
Bagaimana menghadapi bos yang konyol? Jawaban saya: Mengapa harus konyol dengan bekerja untuk bos yang konyol? Hubungan dengan bos bisa jadi adalah bagian terpenting untuk kesuksesan berkarya pada pekerjaan. Apabila upaya terbaik sudah diberikan namun hasil sama saja, ganti permasalahannya. Ganti masalah dari bagaimana menghadapi bos yang konyol dengan bagaimana mencari pekerjaan baru. Bos yang konyol, tidak adil, dan egocentric memang ada, namun bos yang fair, jujur, dan profesional juga banyak.
Bagaimana untuk bisa survive di pekerjaan sekarang? Jawaban saya: Mengapa hanya sekadar survive? Saya tahu pekerjaan penting untuk nafkah, terutama bagi yang punya cicilan rumah, mobil, dan bayar uang sekolah untuk anak. Namun, bukan berarti Anda harus mengerjakannya at any cost. Pekerjaan memang bisa mengontrol waktu dan uang bulanan yang kita peroleh. Namun, pekerjaan TIDAK mengontrol masa depan Anda--kecuali bila Anda menyepakatinya. Being in an awful job is NOT your fault. Staying in an awful job is.
Be a Jedi before you can be a Master Jedi
Penguasaan workplace membutuhkan penguasaan karier sebagai prasyarat utama. Langkah lebih lanjut adalah sebagai berikut:
1. Know what to do, kenali seluruh aspek dan proses pekerjaan dan mekanisme penilaian yang berlaku. Kerjakan sebaik yang bisa dikerjakan. Do those best.
2. Know why you are doing what you are doing, pahami peran pekerjaan Anda bagi diri sendiri, dalam konstelasi usaha dan perusahaan secara keseluruhan. Know them best.
3. Know who is who, organisasi berisikan individual. Mastering your workplace mengharuskan Anda mengenali dan memahami cara berinteraksi dengan seluruh individu yang ada.
4. Know how to make it faster, cheaper and better, ini adalah kontribusi kehadiran Anda. Ketahui dan pahami cara-cara untuk menjadikannya lebih murah, lebih cepat, lebih produktif, lebih efisien, dan lebih baik dalam segala hal. Peningkatan kecil yang terjadi setiap hari akan mengasah diri menjadi lebih baik dan menguasai workplace.
The big lesson
You can only control how hard you try.
Career Coach diawali pada 2007 sebagai sebuah program radio di 87.6 HardRockFM Jakarta & Bandung. Selain mengudara di Radio setiap Selasa pukul 16.45-18.00 WIB, Career Coach juga secara berkala menjadi tamu dalam acara "PagiJakarta" O'Channel dan beberapa stasiun televisi lain. Program ini dikembangkan oleh René Suhardono Canonéo, Partner di AMROP Indonesia (Advisors to Business) sebagai wujud kepedulian bahwa KARIER bukan sekadar pekerjaan. Career Coach menyerukan keselarasan antara PASSION-Purpose of life-Motivation-ACTION dalam pengembangan karier dan kehidupan. Rene, dalam kapasitas sebagai Career Coach, juga telah berpartisipasi dalam banyak seminar, workshops, diskusi panel, dan program training pada perusahaan, organisasi kemasyarakatan dan media. Informasi lebih lanjut mengenai Career Coach dapat dijumpai di www.callmerene.com atau www.passionoutloud.com.
Pak Pri dan saya meyakini bahwa pekerjaan (job) adalah sekadar satu tempat pemberhentian dalam perjalanan panjang yang disebut sebagai karier. Ini bagian dari credo yang senantiasa kami teriakkan: "your job is not your career". Tempat pemberhentian bisa bermakna apabila kita memanfaatkannya dengan tepat dan baik. Dalam satu pemberhentian bisa diperoleh perbekalan, pelajaran, dan kontak yang berguna bagi perjalanan. Sebaliknya, apabila tempat pemberhentian hanya dipandang sebagai sofa empuk di hadapan TV 54 inch dan disamping meja besar berisikan banyak kudapan, tentu hanya rasa nyaman yang diperoleh. Sofa tadi adalah metafora untuk comfort zone.
Kuasai urusan karier sebelum menguasai urusan pekerjaan
Mayoritas problem soal karier yang seringkali ditanyakan kepada CareerCoach adalah persoalan taktis, seperti bagaimana cara menghadapi kebosanan di tempat kerja? Apa yang harus dilakukan kalau jabatan dan/atau gaji mandeg? Atau, harus bagaimana kalau uang dan beban kerja tidak seimbang? Bagaimana juga kalau bos bodoh? Dan, lingkungan kerja tidak mendukung?
Tidak ada yang salah dengan pertanyaan-pertanyaan seputar pekerjaan tersebut. Namun, jawaban apa pun akan lebih pas setelah pertanyaan-pertanyaan kunci soal karier terjawab. Jawab dulu dua pertanyaan ini: What is your passion? What is your purpose of life? Sebelum bisa menguasai urusan job, kuasai dulu urusan karier.
If you can't change the solution, change the problem!
Bagaimana menghadapi kebosanan di tempat kerja? Jawaban saya: Tanya dulu kepada diri sendiri kenapa bisa bosan dan hal-hal apa yang membuat bosan? Apakah sudah punya gagasan soal passion dan purpose of life? Kalau sudah, apakah pekerjaan yang dilakoni sekarang sudah sejalan dengan keduanya? Kalau belum tahu, hal-hal apa yang bisa dilakukan untuk mendekatkan diri dengan passion sekaligus mengejar purpose of life Anda? Try and do everything and learn from the process. No one can be bored by having a clear idea in mind and action!
Bagaimana kalau jabatan dan/atau gaji mandeg? Jawaban saya: Mengapa kerja hanya untuk uang dan jabatan? Great money always follows great works. Apakah Anda sudah mengerjakan atau menjadi bagian dari sesuatu hal yang luar biasa (great)? Kalau belum, kenapa tidak mencari dan mengupayakannya? Pikirkan kontribusi terbesar dan bermakna yang bisa Anda berikan. Never expect smooth sailing in job, chaos unlocks opportunity. Dalam ekspresi lain, lebih banyak Jendral muncul dalam kondisi perang dibandingkan keadaan damai. Temukan dan bergabung di tempat-tempat dan hal-hal yang perlu kontribusi dan peran Anda secara mutlak. Worry less, do more!
Bagaimana menghadapi bos yang konyol? Jawaban saya: Mengapa harus konyol dengan bekerja untuk bos yang konyol? Hubungan dengan bos bisa jadi adalah bagian terpenting untuk kesuksesan berkarya pada pekerjaan. Apabila upaya terbaik sudah diberikan namun hasil sama saja, ganti permasalahannya. Ganti masalah dari bagaimana menghadapi bos yang konyol dengan bagaimana mencari pekerjaan baru. Bos yang konyol, tidak adil, dan egocentric memang ada, namun bos yang fair, jujur, dan profesional juga banyak.
Bagaimana untuk bisa survive di pekerjaan sekarang? Jawaban saya: Mengapa hanya sekadar survive? Saya tahu pekerjaan penting untuk nafkah, terutama bagi yang punya cicilan rumah, mobil, dan bayar uang sekolah untuk anak. Namun, bukan berarti Anda harus mengerjakannya at any cost. Pekerjaan memang bisa mengontrol waktu dan uang bulanan yang kita peroleh. Namun, pekerjaan TIDAK mengontrol masa depan Anda--kecuali bila Anda menyepakatinya. Being in an awful job is NOT your fault. Staying in an awful job is.
Be a Jedi before you can be a Master Jedi
Penguasaan workplace membutuhkan penguasaan karier sebagai prasyarat utama. Langkah lebih lanjut adalah sebagai berikut:
1. Know what to do, kenali seluruh aspek dan proses pekerjaan dan mekanisme penilaian yang berlaku. Kerjakan sebaik yang bisa dikerjakan. Do those best.
2. Know why you are doing what you are doing, pahami peran pekerjaan Anda bagi diri sendiri, dalam konstelasi usaha dan perusahaan secara keseluruhan. Know them best.
3. Know who is who, organisasi berisikan individual. Mastering your workplace mengharuskan Anda mengenali dan memahami cara berinteraksi dengan seluruh individu yang ada.
4. Know how to make it faster, cheaper and better, ini adalah kontribusi kehadiran Anda. Ketahui dan pahami cara-cara untuk menjadikannya lebih murah, lebih cepat, lebih produktif, lebih efisien, dan lebih baik dalam segala hal. Peningkatan kecil yang terjadi setiap hari akan mengasah diri menjadi lebih baik dan menguasai workplace.
The big lesson
You can only control how hard you try.
Career Coach diawali pada 2007 sebagai sebuah program radio di 87.6 HardRockFM Jakarta & Bandung. Selain mengudara di Radio setiap Selasa pukul 16.45-18.00 WIB, Career Coach juga secara berkala menjadi tamu dalam acara "PagiJakarta" O'Channel dan beberapa stasiun televisi lain. Program ini dikembangkan oleh René Suhardono Canonéo, Partner di AMROP Indonesia (Advisors to Business) sebagai wujud kepedulian bahwa KARIER bukan sekadar pekerjaan. Career Coach menyerukan keselarasan antara PASSION-Purpose of life-Motivation-ACTION dalam pengembangan karier dan kehidupan. Rene, dalam kapasitas sebagai Career Coach, juga telah berpartisipasi dalam banyak seminar, workshops, diskusi panel, dan program training pada perusahaan, organisasi kemasyarakatan dan media. Informasi lebih lanjut mengenai Career Coach dapat dijumpai di www.callmerene.com atau www.passionoutloud.com.
- May 19, 2009
- del.icio.us
- Web reactions
- 0 Comments


