Blog -

RSS or Email Updates

In partnership with Citibank Indonesia logo

 

Losing Job but not Losing Hope

"Peace is not the absence of conflict but how you deal with it," by Charles Kettering.

 Quote ini sangat layak untuk kita pikirkan terutama saat krisis ekonomi global tengah melanda seluruh penjuru dunia seperti saat ini. Angka pengangguran memang merupakan rujukan umum kondisi ketenagakerjaan satu negara, namun apabila kita mengenal satu orang saja yang tadinya bekerja menjadi jobless, tentu punya makna lebih mendalam. Saya turut sedih dan merasakan kegamangan setiap kali bertemu saudara atau teman yang harus kehilangan pekerjaan karena alasan apapun. Bagaimana dengan anda?

Better an empty wallet than an empty head

Pekerjaan seringkali memberi kebanggaan bahkan identitas bagi penyandangnya. Saat harus terputus tentu akan berdampak pada kehidupan pribadi. Ini masih belum bicara soal keuangan keluarga yang moga-moga saja sudah dikelola dengan baik.

Dalam sisi karir perlu dipahami adanya siklus yang "harus" dilalui saat seseorang diberhentikan dari pekerjaannya. Siklus ini meliputi perasaan denial, marah, shock, mati rasa hingga putus asa. Denial karena tidak percaya hal seperti ini bisa terjadi pada diri kita; Marah karena merasa ditinggalkan oleh perusahaan dan loyalitas yang selama ini ditunjukkan tidak dipandang; Shock karena tidak siap; Mati rasa karena merasa tidak punya pilihan lain; Dan putus asa karena takut atas konsekuensi hidup selanjutnya.

Siklus ini tidak selalu mengikuti pola sebagaimana diceritakan. Berbagai emosi yang naik-turun adalah normal. Ada kalanya pesimistis, lain waktu bisa optimis. Ada satu waktu bersemangat untuk bertemu belasan orang dalam sehari, namun ada kalanya juga malas untuk keluar rumah.

What can we do now?

1.    Create Awareness (munculkan kesadaran). Sadari setiap letupan emosi yang muncul dalam pikiran. Jangan dilawan! Sadari saja bahwa kita merasakannya. Artinya, sadari kalau kita sedang marah, sadari kalau kita merasakan kekecewaan, sadari juga saat-saat kita malas, dan seterusnya. Mengapa ini penting? Peningkatan awareness akan memberi peluang besar terjadinya rekonsiliasi emosi dalam pikiran.

2.    Acceptance. Menerima dengan besar hati. Ini tidak pernah mudah, tapi memang pekerjaan itu bukan dan tidak akan pernah jadi milik kita. Sadari bahwa cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Since this happens now, we deal with it now. No more "if", no more "kalau saja", no more regrets. Proses penyembuhan diri dimulai sejak kita dapat menerima kenyataan sepahit apapun itu.

3.    Strategizing. Kenali passion, pahami strengths dan skills anda. Lihat dan evaluasi kembali network (baca: orang yang mengenal kita) yang telah terbina. Susun rencana untuk proyek karir - ini bukan sekadar proyek pencarian kerja. Proposal karir harus mengenai segala hal yang bisa dikontribusikan - bukan sekadar mengisi posisi yang kebetulan lowong. Fokus perhatian harus berupa manfaat keberadaan anda - bukan sekedar cari gaji/duit/jabatan/benefit.

4.    Energizing. Be alive! Jalani dan nikmati prosesnya. Do one thing at a time. Selalu ada pilihan dalam berpikir, bersikap dan berinteraksi. It is always better, it is always wiser to be positive, act positive and stay positive.

5.    La Tahzan! Jangan bersedih dan bergembiralah! Syukuri keunikan dan keistimewaan diri. Yakini bahwa keberadaan masing-masing dari kita secara khusus ditujukan memenuhi peran tertentu. You are one step closer now.

The big lesson

Bagi pemilik usaha atau decision-makers, proses PHK juga bukan pilihan mudah. Management lazimnya paham bahwa perlakuan saat pemutusan hubungan kerja punya pengaruh besar atas kesiapan masing-masing individu memasuki kembali bursa kerja. Proses ini juga akan menentukan kinerja / moral karyawan yang tidak dipecat dan keyakinan atas perusahaan. Orang baik punya beban jauh lebih ringan dari orang jahat. Perusahaan akan tergolong baik dan bertanggung jawab apabila mereka peduli dan mempersiapkan program transisi karir atau sering disebut sebagai Outplacement program.

Bagi individu, dalam kondisi normal butuh waktu 3 - 6 bulan untuk mencari pekerjaan pengganti. Lebih penting dari berapa lama waktu yang dibutuhkan adalah apa yang dilakukan dalam kurun waktu tersebut. Sebagian individu akan muncul menjadi pribadi yang skeptis, negative, nggak PD  dan penuh amarah; Sementara sebagian lain justru akan bertransformasi menjadi pribadi yang penuh rasa syukur, sabar, happy dan positive.

Saya berdoa seluruh pembaca artikel ini masuk kategori terakhir. Hakuna Matata!

2 Comments

#1 | katakan 3:46 PM April 5, 2009

mudah-mudahan bisa tetap bersyukur

#2 | bluereynos 3:46 PM May 18, 2009

Kebetulan saya barusan berhenti kerja akhir bulan april kemarin...membaca artikel ini,bener2 memberi inspirasi buat yg jobless...beruntung saya masih tetap bisa "bekerja" tanpa naungan bendera perusahaan sebelumnya karena jaringan yg saya punya selama bekerja dulu...tetap semangat buat yg losing job,don't losing your hope.

Leave a Comment

Namecard Bowl - Put and share them here

Archive

Out Now!

Clear July 2009 Cover

Clear July 2009

RSS or Email Updates

Copyright © 2007-2009 Media Satu Group. All rights reserved. Reproduction in whole or in part without permission is prohibited.