Embrace your PASSION - Know your PURPOSE of Life -
Stay MOTIVATED and Live a Life of ACTION!
"The secret of success is constancy of purpose - Benjamin Disraeli"
Belum lama ini, ada kenalan baru di facebook yang memanggil saya dengan sebutan Mr. Passion. Walaupun selalu lebih senang dipanggil nama saja (tanpa ada embel-embel "pak", "bung", "mas", terlebih lagi "om"), saya senang dan bersyukur pembaca pesan-pesan ini sekarang punya apresiasi dan pemahaman lebih baik soal passion. Paling tidak, "kampanye" Career Coach sejak dua tahun lalu yang berawal dari sebuah radio swasta kondang di Jakarta, tampaknya mulai membuahkan hasil.
Tidak sekadar hobi, passion adalah segala hal yang saat kita kerjakan akan memberikan makna, enjoyment dan kepuasan bagi diri sendiri, kontribusi bagi lingkungan kerja atau usaha, dan manfaat bagi orang lain, makhluk lain, dan alam. Tidak sekadar bekerja 9 to 5 sesuai job description sambil menunggu gaji ditransfer tiap akhir bulan, pemahaman passion akan memberi esensi bagi karier.
Saya juga lega luar biasa setiap kali bertemu teman-teman secara langsung atau melalui e-mail dan (lagi-lagi) facebook, yang mengatakan MY CAREER is NOT MY JOB. Apabila job adalah milik perusahaan atau pemberi kerja, maka karier adalah milik kita sendiri. Karier berhubungan dengan passion, tujuan hidup, dan mimpi-mimpi kita. Bagi pembaca yang masih belum juga memahami pengertian PASSION, I urge you to start thinking and having it now because we are moving forward.
Man is a creation of desire, not a creation of need...
Pernah juga ada yang bertanya seperti ini, "Apakah saya harus mengorbankan pekerjaan sekarang untuk sekadar mengejar passion?" Atau juga, "Saya sudah tahu passion saya. Namun, merasa tidak bisa berkiprah di sana karena tidak punya pengalaman, dan khawatir hasilnya tidak akan memadai untuk menunjang hidup."
Saya sendiri balik bertanya kepada teman-teman tersebut, mengapa mengejar passion dianggap sebagai pengorbanan? Bukankah pengorbanan adalah apabila kita mengerjakan hal-hal semata untuk uang tanpa passion? Apakah hidup kita sekadar untuk memenuhi keinginan yang seringkali kita kaprahkan dengan "kebutuhan"? Bagaimana dengan manfaat dan kontribusi yang bisa atau seharusnya kita berikan? Menjalani passion mungkin tidak mendatangkan manfaat ekonomis secara instan. Namun, akan membuka pintu menuju hidup yang tidak hanya diwarnai kepentingan ekonomis, A Great Life!
This is the end of the beginning.
Apakah passion saja sudah cukup? Memahami passion adalah anak tangga pertama menuju a great life. Very critical yet hardly sufficient. Masih terdapat langkah-langkah lanjutan yang harus dijalani setelah "episode" passion dituntaskan, yaitu:
#rwt4&j)$yuokfcgvhjyuioasdv.... Just making sure you are still reading
Memahami PURPOSE OF LIFE atau misi hidup - Tidak sekadar bicara soal mendapatkan duit, menikmati fasilitas kantor ataupun berbangga atas gelar akademik, pangkat, dan jabatan, purpose of life senantiasa long-term, forever-lasting dan selalu relevan tanpa pernah out-of-context. Menjadi Vice President (VP) bukanlah misi hidup. Purpose of life juga tidak ada hubungannya dengan menjadi sekaya Warren Buffet ataupun setenar Obama. Singkatnya, apa, sih, yang membedakan antara ADA dan TIADA-nya kita di di kantor, dalam organisasi, di rumah, dalam pertemanan, dan dalam kehidupan? Sungguh sial bila jawaban atas pertanyaan itu sama saja. ADA atau TIADA kita tidak ada bedanya! Lebih parah lagi saat keTIADAAN kita justru lebih diharapkan.
Kemampuan meMOTIVASI diri - Segala macam upaya untuk berpandangan positif dalam pemikiran dan langkah hidup. Ini berlaku sekarang, nanti, tahun depan, dan selamanya. Pilihan selalu ada. Dan, pilihan terbaik adalah yang positif.
Terakhir, menjalani hidup dengan ACTION - It's about making it happen! Membangun pencakar langit tertinggi harus diawali dengan jutaan langkah-langkah kecil, seperti mencari lokasi, membuat kajian tanah, menyusun perencanaan keuangan, dll. Langkah-langkah kecil itu juga terdiri dari rangkaian kegiatan-kegiatan mikro, seperti meeting, mengoperasikan komputer, bertemu dan berbicara, dan seterusnya. It starts today, now, and this second.
So, here we go again, friends. What's your passion? And, what's your purpose of life?
"The secret of success is constancy of purpose - Benjamin Disraeli"
Belum lama ini, ada kenalan baru di facebook yang memanggil saya dengan sebutan Mr. Passion. Walaupun selalu lebih senang dipanggil nama saja (tanpa ada embel-embel "pak", "bung", "mas", terlebih lagi "om"), saya senang dan bersyukur pembaca pesan-pesan ini sekarang punya apresiasi dan pemahaman lebih baik soal passion. Paling tidak, "kampanye" Career Coach sejak dua tahun lalu yang berawal dari sebuah radio swasta kondang di Jakarta, tampaknya mulai membuahkan hasil.
Tidak sekadar hobi, passion adalah segala hal yang saat kita kerjakan akan memberikan makna, enjoyment dan kepuasan bagi diri sendiri, kontribusi bagi lingkungan kerja atau usaha, dan manfaat bagi orang lain, makhluk lain, dan alam. Tidak sekadar bekerja 9 to 5 sesuai job description sambil menunggu gaji ditransfer tiap akhir bulan, pemahaman passion akan memberi esensi bagi karier.
Saya juga lega luar biasa setiap kali bertemu teman-teman secara langsung atau melalui e-mail dan (lagi-lagi) facebook, yang mengatakan MY CAREER is NOT MY JOB. Apabila job adalah milik perusahaan atau pemberi kerja, maka karier adalah milik kita sendiri. Karier berhubungan dengan passion, tujuan hidup, dan mimpi-mimpi kita. Bagi pembaca yang masih belum juga memahami pengertian PASSION, I urge you to start thinking and having it now because we are moving forward.
Man is a creation of desire, not a creation of need...
Pernah juga ada yang bertanya seperti ini, "Apakah saya harus mengorbankan pekerjaan sekarang untuk sekadar mengejar passion?" Atau juga, "Saya sudah tahu passion saya. Namun, merasa tidak bisa berkiprah di sana karena tidak punya pengalaman, dan khawatir hasilnya tidak akan memadai untuk menunjang hidup."
Saya sendiri balik bertanya kepada teman-teman tersebut, mengapa mengejar passion dianggap sebagai pengorbanan? Bukankah pengorbanan adalah apabila kita mengerjakan hal-hal semata untuk uang tanpa passion? Apakah hidup kita sekadar untuk memenuhi keinginan yang seringkali kita kaprahkan dengan "kebutuhan"? Bagaimana dengan manfaat dan kontribusi yang bisa atau seharusnya kita berikan? Menjalani passion mungkin tidak mendatangkan manfaat ekonomis secara instan. Namun, akan membuka pintu menuju hidup yang tidak hanya diwarnai kepentingan ekonomis, A Great Life!
This is the end of the beginning.
Apakah passion saja sudah cukup? Memahami passion adalah anak tangga pertama menuju a great life. Very critical yet hardly sufficient. Masih terdapat langkah-langkah lanjutan yang harus dijalani setelah "episode" passion dituntaskan, yaitu:
#rwt4&j)$yuokfcgvhjyuioasdv.... Just making sure you are still reading
Memahami PURPOSE OF LIFE atau misi hidup - Tidak sekadar bicara soal mendapatkan duit, menikmati fasilitas kantor ataupun berbangga atas gelar akademik, pangkat, dan jabatan, purpose of life senantiasa long-term, forever-lasting dan selalu relevan tanpa pernah out-of-context. Menjadi Vice President (VP) bukanlah misi hidup. Purpose of life juga tidak ada hubungannya dengan menjadi sekaya Warren Buffet ataupun setenar Obama. Singkatnya, apa, sih, yang membedakan antara ADA dan TIADA-nya kita di di kantor, dalam organisasi, di rumah, dalam pertemanan, dan dalam kehidupan? Sungguh sial bila jawaban atas pertanyaan itu sama saja. ADA atau TIADA kita tidak ada bedanya! Lebih parah lagi saat keTIADAAN kita justru lebih diharapkan.
Kemampuan meMOTIVASI diri - Segala macam upaya untuk berpandangan positif dalam pemikiran dan langkah hidup. Ini berlaku sekarang, nanti, tahun depan, dan selamanya. Pilihan selalu ada. Dan, pilihan terbaik adalah yang positif.
Terakhir, menjalani hidup dengan ACTION - It's about making it happen! Membangun pencakar langit tertinggi harus diawali dengan jutaan langkah-langkah kecil, seperti mencari lokasi, membuat kajian tanah, menyusun perencanaan keuangan, dll. Langkah-langkah kecil itu juga terdiri dari rangkaian kegiatan-kegiatan mikro, seperti meeting, mengoperasikan komputer, bertemu dan berbicara, dan seterusnya. It starts today, now, and this second.
So, here we go again, friends. What's your passion? And, what's your purpose of life?
- February 19, 2009
- del.icio.us
- Web reactions
- 3 Comments



3 Comments
#1 | Hary 4:17 AM March 31, 2009
saya sedang berada dalam titik yg membingungkan... sempat saya membaca beberapa artikel rene tentang karir, kerja, dll..
Mungkin benar kalau saat ini saya bekerja bukan utk passion saya tapi hanya demi uang, career path & benefit sehingga sekarang saya tidak bahagia dalam pekerjaan saya.
Padahal setahu saya, bidang ini sangat saya minati dulu & menjadi pintu awal perjalanan karir saya hingga saat ini.
Dan akhir2 ini semakin sering terlintas di benak utk mengajukan resign daripada saya berlama-lama seperti ini membuang waktu.
Dan saya ingin mencari lagi jalan yang dapat menjawab kebutuhan passion saya.
Mohon masukan apa tindakan saya benar utk mengajukan resign tanpa ada kepastian setelahnya?
Terima kasih...
#2 | Debbie Nasta 11:19 PM April 26, 2009
Mas Rene..
Saya sudah bekerja hampir 8,5 tahun di perusahaan fashion retail untuk sebuah Brand terkemuka di indonesia.. dan saya merasa perkerjaan saya ini adalah PASSION saya..
Selama 8,5 tahun saya berkerja pakai hati... tanpa memperdulikan 'job security' yg di berikan perusahaan dan berusaha untuk menutup telinga saya mengenai gaji2 selevel saya terdengar menggiurkan.. untuk saya... apabila kita kerja dari hati dan dengan hati yang ikhlas.. otomatis akan berdampak baik pada karier kita. Comfort zone? mungkin iya.. tapi saya tetep kekeuh kalo kerjaan saya adalah PASSION saya =)
Baru baru ini.. ada sebuah tawaran pekerjaan yang saya anggap adalah tantangan baru untuk saya dan juga masih bagian dari PASSION saya di dunia fashion, apalagi kantor perusahaan tersebut hanya berjarak 10 menit dari rumah saya (Sebagai orang tua tunggal, kantor deket rumah agar bisa dekat dgn anak saya adalah sebuah cita cita) masuk ke dalam perusahaan tersebut selalu menjadi impian saya. Masalahnya, Gaji yang ditawarkan 30% lebih rendah dari gaji saya sekarang. Jelas saya bingung mas, kalau sudah begini.. saya jadi ga yakin.. apa bener.. pekerjaan baru ini adalah PASSION saya? kalau iya seharusnya saya tidak terlalu memikirkan gajinya? apalagi dekat rumah?.
Akhirnya dengan berat saya mengambil keputusan untuk tidak mengambil pekerjaan tersebut dan melupakan impian saya.. mau gimana? Gaji turun 30% sangat berat untuk orang tua tunggal macam saya =)
Fashion in my Passion.. tapi untuk membuat anak saya hidup aman dan berkecukupan adalah my purpose of life =)
nahh, gimana menurut coach??? =)
#3 | Denta 8:16 PM May 6, 2009
salut bwt rene and all of his idea yang sebetulnya basic, hanya saja sering terlupakan oleh banyak pekerja..tentang passion, alasan sesungguhnya kenapa kita melakukan apa yang menjadi pekerjaan kita saat ini.