Fear!
"The only thing we have to fear is fear itself " - FDR
FDR/Franklin Delano Roosevelt adalah presiden ke-32 Amerika Serikat. FDR adalah satu-satunya presiden dalam sejarah Amerika Serikat yang terpilih dalam empat masa kepresidenan. Ia juga merupakan Inisiator the New Deal, yakni inisiatif nasional untuk memerangi resesi global yang melanda dunia kala itu. New Deal menyelenggarakan pekerjaan-pekerjaan publik besar sekaligus membuka lapangan kerja, memperbaiki ekonomi dan perbankan dengan mendirikan FDIC (Federal Deposit Insurance Corporation) dan SEC (Securities & Exchange Commission).
FDR/Franklin Delano Roosevelt adalah presiden ke-32 Amerika Serikat. FDR adalah satu-satunya presiden dalam sejarah Amerika Serikat yang terpilih dalam empat masa kepresidenan. Ia juga merupakan Inisiator the New Deal, yakni inisiatif nasional untuk memerangi resesi global yang melanda dunia kala itu. New Deal menyelenggarakan pekerjaan-pekerjaan publik besar sekaligus membuka lapangan kerja, memperbaiki ekonomi dan perbankan dengan mendirikan FDIC (Federal Deposit Insurance Corporation) dan SEC (Securities & Exchange Commission).
FDR menyampaikan pidato di hadapan publik dengan judul di atas saat
pengukuhannya sebagai Presiden Amerika Serikat pada 1933--saat resesi
perekonomian global memasuki tahun ke-4. Hampir tidak ada optimisme
kala itu. Resesi global mengakibatkan jutaan orang kehilangan
pekerjaan, ketiadaan barang konsumsi (bahkan pangan sekalipun) yang
berdampak pada kelaparan. Terkesan tidak ada pilihan selain membiarkan
ketakutan mendominasi kehidupan seluruh lapisan masyarakat. Ketakutan
atas pengangguran, kelaparan, dan segala jenis kesusahan hidup.
Indonesia pernah menghadapi situasi hampir serupa, paling tidak dua kali sejak kita merdeka. Kisruh politik dan kepemimpinan pada 1965--1968 dan krisis ekonomi 1998 saat kejatuhan rezim Orde Baru. Saya yakin banyak di antara pembaca masih ingat kekacauan '98; puluhan bank tutup, ratusan perusahaan gulung tikar yang menyebabkan jutaan karyawan harus menganggur.
Tiga bulan terakhir, kita mengamati kemerosotan drastis indikator-indikator ekonomi. Episentrum gempa ekonomi kali ini ada di Amerika Serikat dan negara-negara maju. Indonesia sedikit banyak juga akan terkena dampaknya. Dunia mungkin (sudah) menghadapi resesi global sekarang. Takut?
I live, I die, all with a purpose...
Kalau ketakutan sudah mendominasi pikiran, reasoning apa pun tidak akan bermanfaat. Takut menganggur, takut miskin, takut sakit, takut lapar, takut tidak diakui, takut mati, dan seterusnya.
Bicara soal karier, ketakutan seringkali mendasari keputusan kita. Anda tahu apa yang akan terjadi kalau sudah begini? Risiko menjadi tabu dan harus dihindari at all cost. Status quo adalah comfort zone. Changes become unacceptable. Fokus mutlak hanya pada pekerjaan daripada karier. No joy of working. No passion. No life.
Ketakutan adalah hal wajar. Stop sampai di situ. Jangan pernah membiarkan Anda dikendalikan olehnya. Apabila perusahaan global sebesar Lehman Brothers yang sudah beroperasi lebih dari 150 tahun bisa tutup, pola ABS (asal bapak senang) tidak akan membantu banyak. Sejalan dengan itu, kalaupun perusahaan tempat kerja harus bubar (amit-amit!), amukan kita sebagai 'karyawan teraniaya' dan ancaman demonstrasi besar-besaran pada pemimpin perusahaan juga tidak akan membawa perubahan. Hal-hal semacam ini hanya akan mengalihkan depresi ekonomi menjadi depresi jiwa.
So what can we do? What choices do we have? What to do? How to do? And a million other questions.
I say, firstly, we must believe in GOD
Saya yakin sebagian besar pembaca menjawab "Ya!" Percayalah bahwa Pemberi Hidup berjanji memenuhi semua kebutuhan kita. Bedakan antara kebutuhan dengan keinginan.
Apa lagi? Take full responsibility of your own life. Terima risiko dan tantangan dengan WAJAR dan berani. Berhenti menyalahkan orang lain, lingkungan, pemerintah, atau negara lain. Ambil pilihan sesuai keinginan. Miliki dan terima tanggung jawab atas konsekuensi pilihan itu.
Live by your passion. Semakin cepat Anda menyadari dan menjalani hidup sesuai passion, semakin baik. Do you know why? Orang yang tahu dan peduli akan passion-nya akan selalu berpikiran POSITIF dan ANTUSIAS atas segala hal yang terjadi. Tidak tunduk pada situasi, tidak menyerah pada keadaan, dan tidak menyalahkan orang lain.
What else? ACTION! Do something. Do anything to contribute and make your life better. Kalau gagal, coba lagi dan terus coba. Sebagaimana yang pernah terjadi dan akan terus terjadi, badai ini akan kita lewati.
Fortuna favi fortus
Keberanian memihak mereka yang berani.
Indonesia pernah menghadapi situasi hampir serupa, paling tidak dua kali sejak kita merdeka. Kisruh politik dan kepemimpinan pada 1965--1968 dan krisis ekonomi 1998 saat kejatuhan rezim Orde Baru. Saya yakin banyak di antara pembaca masih ingat kekacauan '98; puluhan bank tutup, ratusan perusahaan gulung tikar yang menyebabkan jutaan karyawan harus menganggur.
Tiga bulan terakhir, kita mengamati kemerosotan drastis indikator-indikator ekonomi. Episentrum gempa ekonomi kali ini ada di Amerika Serikat dan negara-negara maju. Indonesia sedikit banyak juga akan terkena dampaknya. Dunia mungkin (sudah) menghadapi resesi global sekarang. Takut?
I live, I die, all with a purpose...
Kalau ketakutan sudah mendominasi pikiran, reasoning apa pun tidak akan bermanfaat. Takut menganggur, takut miskin, takut sakit, takut lapar, takut tidak diakui, takut mati, dan seterusnya.
Bicara soal karier, ketakutan seringkali mendasari keputusan kita. Anda tahu apa yang akan terjadi kalau sudah begini? Risiko menjadi tabu dan harus dihindari at all cost. Status quo adalah comfort zone. Changes become unacceptable. Fokus mutlak hanya pada pekerjaan daripada karier. No joy of working. No passion. No life.
Ketakutan adalah hal wajar. Stop sampai di situ. Jangan pernah membiarkan Anda dikendalikan olehnya. Apabila perusahaan global sebesar Lehman Brothers yang sudah beroperasi lebih dari 150 tahun bisa tutup, pola ABS (asal bapak senang) tidak akan membantu banyak. Sejalan dengan itu, kalaupun perusahaan tempat kerja harus bubar (amit-amit!), amukan kita sebagai 'karyawan teraniaya' dan ancaman demonstrasi besar-besaran pada pemimpin perusahaan juga tidak akan membawa perubahan. Hal-hal semacam ini hanya akan mengalihkan depresi ekonomi menjadi depresi jiwa.
So what can we do? What choices do we have? What to do? How to do? And a million other questions.
I say, firstly, we must believe in GOD
Saya yakin sebagian besar pembaca menjawab "Ya!" Percayalah bahwa Pemberi Hidup berjanji memenuhi semua kebutuhan kita. Bedakan antara kebutuhan dengan keinginan.
Apa lagi? Take full responsibility of your own life. Terima risiko dan tantangan dengan WAJAR dan berani. Berhenti menyalahkan orang lain, lingkungan, pemerintah, atau negara lain. Ambil pilihan sesuai keinginan. Miliki dan terima tanggung jawab atas konsekuensi pilihan itu.
Live by your passion. Semakin cepat Anda menyadari dan menjalani hidup sesuai passion, semakin baik. Do you know why? Orang yang tahu dan peduli akan passion-nya akan selalu berpikiran POSITIF dan ANTUSIAS atas segala hal yang terjadi. Tidak tunduk pada situasi, tidak menyerah pada keadaan, dan tidak menyalahkan orang lain.
What else? ACTION! Do something. Do anything to contribute and make your life better. Kalau gagal, coba lagi dan terus coba. Sebagaimana yang pernah terjadi dan akan terus terjadi, badai ini akan kita lewati.
Fortuna favi fortus
Keberanian memihak mereka yang berani.
- November 20, 2008
- del.icio.us
- Web reactions
- 0 Comments



