Where Did You Spend Your First Salary?
Gaji merupakan hal terpenting bagi seorang karyawan--di samping kenyamanan tentunya.
Dengan gaji, jerih payah yang telah mereka lakukan selama satu bulan
pun terbayar. Meskipun, tak sedikit karyawan yang merasa gajinya tak
seimbang dengan pekerjaan mereka, apalagi di Indonesia.
Namun di sini, kami tidak akan membahas hal itu. Terlalu banyak kepentingan yang 'bermain' terkait keseimbangan antara gaji dengan beban kerja. Kami justru tertarik untuk melihat bagaimana/ke mana para karyawan mengalokasikan gaji pertama mereka. Karena, besar/kecil gaji yang mereka terima, tentu tak menghilangkan 'kesakralan' gaji pertama tersebut. Seperti hal-hal 'pertama' lainnya, gaji pertama pun akan menjadi sesuatu yang tak akan (atau sulit) terlupakan. Tak percaya? Berikut cerita beberapa teman karyawan mengenai gaji pertama mereka. Bagaimana dengan Anda?
Andrianto, Project Officer Bina Nusa Persada
Lajang bernama lengkap Andrianto Asasto Saroyo ini bisa dibilang sangat peduli kawan. Bagaimana tidak, hampir seluruh gaji pertama yang diterimanya dialokasikan untuk mentraktir teman nongkrongnya. "Cuma sisain untuk bujet perkiraan keperluan satu bulan ke depan," katanya. Lantas, bagaimana tanggapan teman-teman yang beruntung ditraktirnya? "Mereka semua mendoakan saya semoga bisa lebih sukses dan bahagia," kata Andrianto.
Memang, mungkin bagi pria yang kerap disapa Rian ini gajinya 'tidak seberapa penting'. Pasalnya, selain gaji bulanan (fixed) yang ia terima, lulusan Arsitektur Universitas Diponegoro, Semarang, ini juga mendapat 'honor' harian jika ia ditugaskan ke lapangan. Tak tanggung-tanggung, klien yang ia pegang adalah perusahaan minyak ternama, British Petroleum. Makanya, tanggung jawabnya yang cukup besar--memastikan kelancaran aktivitas satu platform--membuatnya diganjar honor harian yang lumayan besar. "Jadi, ngga apa-apa 'dikasihin' ke temen. Hitung-hitung amal," candanya.
Kini, Rian mulai agak disiplin dalam hal memperlakukan gajinya. "Saya harus mulai nabung. Ya, untuk married dan lain-lain, lah. Lagian, dalam waktu dekat ini saya berencana membeli sesuatu yang sudah lama saya impikan," katanya sambil menerawang. Mobilkah itu? Hmm.. mungkin saja. Semoga kesampaian. "Tapi saya tetap mentraktir teman, kok," tutupnya.
Yanuar Sukma, Account Executive Bank Of India

"Wah, iya, tuh. Lucu juga. Saya masih inget, kok, tentang gaji pertama," sambut Yanuar ketika membuka pembicaraan. Yanuar memang termasuk orang yang menganggap gaji pertama sebagai hal 'sakral'. Menurutnya, ada sensasi tersendiri ketika kita menerima gaji pertama. "Biasanya, kan, tinggal nadah. Terus nyokap atau bokap dengan senang hati mengucurkan dana. Nah, pas nemerima uang hasil jerih payah kita, rasanya bangga banget," katanya beralasan.
Pria yang akrab disapa Nunu ini juga termasuk yang sangat peduli pada keluarga. Buktinya, hampir seluruh gajinya dihibahkan ke ibunda tercinta. "Biar dapat doa restu. Biar lancar kerjaannya," katanya serius. Selain itu, sudah sejak lama Nunu ingin membalas kebaikan kedua orangtuanya. "Lagian baru itu yang bisa saya lakuin buat nyenengin nyokap," katanya. Sisa gajinya pun diproyeksikan untuk ongkos satu bulan ke depan. Apalagi jarak kantornya yang terletak di daerah Kota dari rumahnya membuatnya harus lebih cerdik membuat perhitungan.
Bagaimana dengan teman? "Ya, pastinya mereka juga minta jatah. Itu saya bujetkan di bulan kedua," katanya. Untuk sekarang, Nunu mulai membagi-bagi gajinya dengan proyeksi masa depan. "Sebagian kasih nyokap. Sebagian saya tabung. Sebagian buat ongkos sehari-hari. Sebagian buat asuransi. Sebagian saya investasikan," terangnya. Melihat pembagian yang ia paparkan, sepertinya gaji yang ia terima per bulan cukup besar. "Ya, cukuplah," katanya tanpa mau menyebutkan nominal. Ditanya alasannya dalam hal memperlakukan gajinya, ia menjawab "Saya hidup buat ke depan. Masa iya mau stuck di sini saja," tutupnya.
Rudiana, Karyawan divisi IT

Rudiana, pria lajang 26 tahun, asal Kuningan Jawa Barat, mengaku, gaji yang ia dapatkan saat pertama kali bekerja tahun 2004, sebagai karyawan perusahaan manufaktur produksi cat dan tinta di sebuah pabrik daerah Bekasi, bagian dispatch, adalah sebesar 800 ribu rupiah. Uang tersebut ia habiskan untuk mengirim ke orang tuanya, bayar kontrakan, dan sisanya dipakai untuk keperluan sehari-hari. Saat ini dia bekerja sebagai pegawai divisi IT, di sebuah perusahaan media. Ia keberatan, saat diminta menyebutkan jumlah gajinya yang sekarang.
Nasta Inda Sadikin, Produser Hard Rock FM

Sementara itu, Nasta Inda Sadikin, yang sekarang berprofesi sebagai produser di Hard Rock FM Jakarta, mengaku, gaji pertama yang ia terima saat menjabat posisi yang sama di sebuah radio swasta kota Bandung pada tahun 2005(dia meminta untuk tidak menyebut nama radio tersebut) besarnya hanya 300 ribu rupiah. Uang tersebut ia habiskan untuk membeli baju kerja, dan dipakai untuk menraktir neneknya makan siang.
Imam, Pegawai Negeri Sipil
Imam, Pegawai Negeri Sipil Golongan 1A mengaku kalau gaji pertamanya di awal tahun 2008 lalu sebesar Rp 910.000-belum termasuk uang tunjangan yang lain, seperti beras dan tunjangan jabatan. "Yah, lumayanlah kalo dilihat kedepannya, apalagi menjadi PNS sudah menjadi cita-cita saya. Dan, setelah berhasil, tentunya menjadi sebuah kebanggaan tersendiri." "Gaji pertama tersebut saya habiskan untuk traktir pacar, teman dan sebagian disisihkan untuk orangtua." Pungkasnya.
Itha Ardiansyah, Dosen Ilmu Komunikasi
Lain lagi pengalaman Itha Ardiansyah seorang dosen di Universitas Swasta, ia mengaku gaji pertamanya sebagai dosen honorer berkisar Rp 500,000 - Rp 1 juta tergantung dari banyaknya jadwal mengajar kita setiap bulannya. Soal menghabiskannya, dengan lugas ia menjawab langsung habis dalam satu hari akibat jalan-jalan ke Mall bersama teman dan pacar. "Saking exitednya dapat gaji pertama, langsung habis akibat bujuk rayu teman, tapi uangnya juga terpakai buat sesuatu yang berguna seperti membeli baju kerja", ujar Itha membela diri.
Nina Kanahaya Nagita, Editor Majalah Wanita

Perempuan ini memulai karirnya sebagai seorang web content di sebuah web provider. Saat itu Nina berhak membawa pulang uang sejumlah Rp. 1.200.000 untuk hasil kerjanya. Ketika pertama kali menerima uang, yang Nina lakukan adalah membaginya untuk keperluan diri sendiri, memberikan orang tua dan adik, dan yang terakhir membayari teman-temannya makan. "Sayangnya tidak saya alokasikan untuk menabung," ucapnya sedikit menyesal.
Saat ini, dengan posisinya sebagai seorang Editor di sebuah majalah wanita, Nina mulai mengalokasikan gajinya untuk kebutuhan pribadi dan berinvestasi dalam bentuk tabungan dan reksadana. "Saya harus punya sesuatu untuk di hari tua," papar Nina menutup percakapan.
Frisanti Karlina, Marketing PR TV Swasta

"Senang dan bangga," ungkap Frisanti Karlina atau biasa disapa Shanti saat ditanya bagaimana rasanya mendapatkan gaji pertama dari hasil jerih payahnya bekerja sebagai seorang relawan UNFREL (University for Free Election, lembaga independent pemantau pemilu dari lingkungan universitas) yang dijalaninya sambil kuliah. Begitu selesai menjalani tugasnya, Shanti mendapatkan gaji sebesar Rp. 300.000. "Uangnya dipakai untuk tambahan ongkos kuliah dan mentraktir orang tua, dan adik-adik."
Saat ditanya tentang pendapatannya saat ini, Shanti menjawab "Pendapatan yang sekarang tentunya lebih besar dan digunakan untuk kepentingan pribadi, membantu biaya kuliah adik, dan menabung sedikit demi sedikit untuk masa depan," paparnya mantap.
Namun di sini, kami tidak akan membahas hal itu. Terlalu banyak kepentingan yang 'bermain' terkait keseimbangan antara gaji dengan beban kerja. Kami justru tertarik untuk melihat bagaimana/ke mana para karyawan mengalokasikan gaji pertama mereka. Karena, besar/kecil gaji yang mereka terima, tentu tak menghilangkan 'kesakralan' gaji pertama tersebut. Seperti hal-hal 'pertama' lainnya, gaji pertama pun akan menjadi sesuatu yang tak akan (atau sulit) terlupakan. Tak percaya? Berikut cerita beberapa teman karyawan mengenai gaji pertama mereka. Bagaimana dengan Anda?
Andrianto, Project Officer Bina Nusa Persada
Lajang bernama lengkap Andrianto Asasto Saroyo ini bisa dibilang sangat peduli kawan. Bagaimana tidak, hampir seluruh gaji pertama yang diterimanya dialokasikan untuk mentraktir teman nongkrongnya. "Cuma sisain untuk bujet perkiraan keperluan satu bulan ke depan," katanya. Lantas, bagaimana tanggapan teman-teman yang beruntung ditraktirnya? "Mereka semua mendoakan saya semoga bisa lebih sukses dan bahagia," kata Andrianto.
Memang, mungkin bagi pria yang kerap disapa Rian ini gajinya 'tidak seberapa penting'. Pasalnya, selain gaji bulanan (fixed) yang ia terima, lulusan Arsitektur Universitas Diponegoro, Semarang, ini juga mendapat 'honor' harian jika ia ditugaskan ke lapangan. Tak tanggung-tanggung, klien yang ia pegang adalah perusahaan minyak ternama, British Petroleum. Makanya, tanggung jawabnya yang cukup besar--memastikan kelancaran aktivitas satu platform--membuatnya diganjar honor harian yang lumayan besar. "Jadi, ngga apa-apa 'dikasihin' ke temen. Hitung-hitung amal," candanya.
Kini, Rian mulai agak disiplin dalam hal memperlakukan gajinya. "Saya harus mulai nabung. Ya, untuk married dan lain-lain, lah. Lagian, dalam waktu dekat ini saya berencana membeli sesuatu yang sudah lama saya impikan," katanya sambil menerawang. Mobilkah itu? Hmm.. mungkin saja. Semoga kesampaian. "Tapi saya tetap mentraktir teman, kok," tutupnya.
Yanuar Sukma, Account Executive Bank Of India

"Wah, iya, tuh. Lucu juga. Saya masih inget, kok, tentang gaji pertama," sambut Yanuar ketika membuka pembicaraan. Yanuar memang termasuk orang yang menganggap gaji pertama sebagai hal 'sakral'. Menurutnya, ada sensasi tersendiri ketika kita menerima gaji pertama. "Biasanya, kan, tinggal nadah. Terus nyokap atau bokap dengan senang hati mengucurkan dana. Nah, pas nemerima uang hasil jerih payah kita, rasanya bangga banget," katanya beralasan.
Pria yang akrab disapa Nunu ini juga termasuk yang sangat peduli pada keluarga. Buktinya, hampir seluruh gajinya dihibahkan ke ibunda tercinta. "Biar dapat doa restu. Biar lancar kerjaannya," katanya serius. Selain itu, sudah sejak lama Nunu ingin membalas kebaikan kedua orangtuanya. "Lagian baru itu yang bisa saya lakuin buat nyenengin nyokap," katanya. Sisa gajinya pun diproyeksikan untuk ongkos satu bulan ke depan. Apalagi jarak kantornya yang terletak di daerah Kota dari rumahnya membuatnya harus lebih cerdik membuat perhitungan.
Bagaimana dengan teman? "Ya, pastinya mereka juga minta jatah. Itu saya bujetkan di bulan kedua," katanya. Untuk sekarang, Nunu mulai membagi-bagi gajinya dengan proyeksi masa depan. "Sebagian kasih nyokap. Sebagian saya tabung. Sebagian buat ongkos sehari-hari. Sebagian buat asuransi. Sebagian saya investasikan," terangnya. Melihat pembagian yang ia paparkan, sepertinya gaji yang ia terima per bulan cukup besar. "Ya, cukuplah," katanya tanpa mau menyebutkan nominal. Ditanya alasannya dalam hal memperlakukan gajinya, ia menjawab "Saya hidup buat ke depan. Masa iya mau stuck di sini saja," tutupnya.
Rudiana, Karyawan divisi IT

Rudiana, pria lajang 26 tahun, asal Kuningan Jawa Barat, mengaku, gaji yang ia dapatkan saat pertama kali bekerja tahun 2004, sebagai karyawan perusahaan manufaktur produksi cat dan tinta di sebuah pabrik daerah Bekasi, bagian dispatch, adalah sebesar 800 ribu rupiah. Uang tersebut ia habiskan untuk mengirim ke orang tuanya, bayar kontrakan, dan sisanya dipakai untuk keperluan sehari-hari. Saat ini dia bekerja sebagai pegawai divisi IT, di sebuah perusahaan media. Ia keberatan, saat diminta menyebutkan jumlah gajinya yang sekarang.
Nasta Inda Sadikin, Produser Hard Rock FM

Sementara itu, Nasta Inda Sadikin, yang sekarang berprofesi sebagai produser di Hard Rock FM Jakarta, mengaku, gaji pertama yang ia terima saat menjabat posisi yang sama di sebuah radio swasta kota Bandung pada tahun 2005(dia meminta untuk tidak menyebut nama radio tersebut) besarnya hanya 300 ribu rupiah. Uang tersebut ia habiskan untuk membeli baju kerja, dan dipakai untuk menraktir neneknya makan siang.
Imam, Pegawai Negeri Sipil
Imam, Pegawai Negeri Sipil Golongan 1A mengaku kalau gaji pertamanya di awal tahun 2008 lalu sebesar Rp 910.000-belum termasuk uang tunjangan yang lain, seperti beras dan tunjangan jabatan. "Yah, lumayanlah kalo dilihat kedepannya, apalagi menjadi PNS sudah menjadi cita-cita saya. Dan, setelah berhasil, tentunya menjadi sebuah kebanggaan tersendiri." "Gaji pertama tersebut saya habiskan untuk traktir pacar, teman dan sebagian disisihkan untuk orangtua." Pungkasnya.
Itha Ardiansyah, Dosen Ilmu Komunikasi
Lain lagi pengalaman Itha Ardiansyah seorang dosen di Universitas Swasta, ia mengaku gaji pertamanya sebagai dosen honorer berkisar Rp 500,000 - Rp 1 juta tergantung dari banyaknya jadwal mengajar kita setiap bulannya. Soal menghabiskannya, dengan lugas ia menjawab langsung habis dalam satu hari akibat jalan-jalan ke Mall bersama teman dan pacar. "Saking exitednya dapat gaji pertama, langsung habis akibat bujuk rayu teman, tapi uangnya juga terpakai buat sesuatu yang berguna seperti membeli baju kerja", ujar Itha membela diri.
Nina Kanahaya Nagita, Editor Majalah Wanita

Perempuan ini memulai karirnya sebagai seorang web content di sebuah web provider. Saat itu Nina berhak membawa pulang uang sejumlah Rp. 1.200.000 untuk hasil kerjanya. Ketika pertama kali menerima uang, yang Nina lakukan adalah membaginya untuk keperluan diri sendiri, memberikan orang tua dan adik, dan yang terakhir membayari teman-temannya makan. "Sayangnya tidak saya alokasikan untuk menabung," ucapnya sedikit menyesal.
Saat ini, dengan posisinya sebagai seorang Editor di sebuah majalah wanita, Nina mulai mengalokasikan gajinya untuk kebutuhan pribadi dan berinvestasi dalam bentuk tabungan dan reksadana. "Saya harus punya sesuatu untuk di hari tua," papar Nina menutup percakapan.
Frisanti Karlina, Marketing PR TV Swasta

"Senang dan bangga," ungkap Frisanti Karlina atau biasa disapa Shanti saat ditanya bagaimana rasanya mendapatkan gaji pertama dari hasil jerih payahnya bekerja sebagai seorang relawan UNFREL (University for Free Election, lembaga independent pemantau pemilu dari lingkungan universitas) yang dijalaninya sambil kuliah. Begitu selesai menjalani tugasnya, Shanti mendapatkan gaji sebesar Rp. 300.000. "Uangnya dipakai untuk tambahan ongkos kuliah dan mentraktir orang tua, dan adik-adik."
Saat ditanya tentang pendapatannya saat ini, Shanti menjawab "Pendapatan yang sekarang tentunya lebih besar dan digunakan untuk kepentingan pribadi, membantu biaya kuliah adik, dan menabung sedikit demi sedikit untuk masa depan," paparnya mantap.
- June 3, 2009
- del.icio.us
- Web reactions
- 2 Comments



2 Comments
#1 | poppy 4:00 PM June 4, 2009
artikelnya seru! jadi inget waktu dapet gaji pertama yang langsung dibeliin perhiasan buat kenang2an karna dah bisa cari duit sendiri :)
#2 | genial 3:23 AM June 14, 2009
sayang banget tu foto nastanya kecil banged!!!