Tere
Bersuara untuk perempuan
Menyuarakan aspirasi perempuan
Siapa tak kenal Tere. Solis yang baru saja menelurkan album keempat ini muncul sebagai calon anggota legislatif dari Partai Demokrat. Di tengah merebaknya tren caleg muda, Tere maju demi membawa visi mengembangkan pendidikan karakter dan menyuarakan aspirasi perempuan. Langkahnya itu bukan merupakan strategi politik, tapi lebih pada bentuk perjuangan. Kepada Adirama Gemmy, Theresia Ebenna Ezeria Pardede ini berbicara tentang pencalonan dirinya.
Anda calon anggota legislatif untuk tingkat apa?
Calon anggota legislatif Partai Demokrat untuk daerah pemilihan Jawa Barat II, yang meliputi Kabupaten Bandung dan Bandung Barat.
Bagaimana Anda bisa terjun ke politik?
Sebelum mendaftarkan diri sebagai caleg, saya telah bergabung dengan forum seniman perempuan yang memang merupakan salah satu organisasi sayap Partai Demokrat bersifat non-struktural. Pada waktu pembukaan pendaftaran caleg, seluruh organisasi yang ada di Partai Demokrat diimbau untuk berpartisipasi, khususnya kaum perempuan. Dari situlah saya berusaha memenuhi 'panggilan negara'.
Menurut Anda, seberapa penting kehadiran wakil rakyat yang berasal dari praktisi seniman--mengingat Anda juga seniman?
Pencalonan diri saya bukan untuk mewakili seniman, tapi lebih kepada memaksimalkan keistimewaan (kuota 30%) yang diberikan untuk kaum perempuan. Saya juga menekankan pada kualitas supaya hasil filter dari kuota 30% bisa maksimal. Mengenai latar belakang saya yang dari dunia seni, itu merupakan hal berbeda. Ini merupakan bentuk perjuangan saya sebagai warga negara yang peduli.
Bukannya perempuan memang sudah diberikan hak yang pantas sejak reformasi?
Kaum perempuan yang ada di legislatif sekarang ini jumlahnya lebih sedikit, bahkan jika dibandingkan dengan saat reformasi. Jumlahnya terus menurun hingga sekarang.
Pernah memiliki pengalaman berorganisasi?
Sejak SMP-SMA saya aktif di kegiatan OSIS. Di kampus saya juga ikut himpunan mahasiswa, dan saya juga sempat bergabung di PAPRI (Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia).
Apa hal mendasar yang menjadi penyebab kompleksitas permasalahan Indonesia?
Mental. Indonesia adalah unfinished nation, masih mencari jati diri. Sejak zaman Belanda, mental kita 'jongos'. Pendidikan yang harusnya bisa memanusiakan manusia, belum menunjukkan fungsinya. Meski pemerintahan sekarang cukup concern dengan memberikan anggaran 20%, sayangnya belum dimanfaatkan untuk membentuk karakter bangsa. Kita masih terjebak hanya pada pendidikan pengetahuan.
Memang seharusnya seperti apa?
Lebih difokuskan pada pengembangan karakter dan mental supaya sumber daya manusianya tidak sekadar menjadi 'robot-robot', serta memiliki kemampuan menyeluruh, seperti kreativitas dan leadership. Tak heran jika sekarang masih sering dijumpai kasus-kasus korupsi.
Jadi, memang sudah saatnya Indonesia membutuhkan calon-calon muda berpikiran baru?
Tidak hanya itu. Mereka juga harus efektif dan memiliki komitmen. Kalau bicara muda saja gampang.
Sebelum Demokrat, ada partai lain yang mencoba meminang Anda?
Ada. Namun, waktu itu saya hanya diberikan kapasitas sebagai vote getter dan saya sangat tidak tertarik. Saya ingin bersuara untuk mewakili perempuan.
Apa saja yang sudah Anda persiapkan untuk pencalonan ini?
Yang utama adalah good will. Banyak orang yang belum apa-apa sudah berbicara dana (kampanye). Itu memang penting, tapi sekadar sarana. Bagaimana bisa maju, kalau hanya berkutat pada soal dana. Untuk menjadi seorang legislatif, harusnya bukan finansial yang menjadi modal utama, tapi good will, kapabilitas, plus komitmen.
Seberapa yakin Anda bisa terpilih?
Saya melihat ini bukan sekadar menang atau kalah. Perjuangan saya panjang, bukan sekadar untuk 9 April. Yang paling esensial adalah perjuangan dan good will. Saya hadir untuk memberikan alternatif dan pembelajaran--khususnya untuk perempuan. Saya percaya adanya grand design dan free will untuk manusia. Usaha tetap, namun approval milik Tuhan.
Bagaimana tentang album terbaru Anda (Teretorial Hits). Apa ada hubungannya dengan pencalonan?
Album itu merupakan kumpulan hits plus tiga lagu baru yang seharusnya dirilis awal 2008. Namun, karena beberapa kendala, baru dirilis Desember 2008. Jadi, sama sekali tak ada hubungannya dengan pencalonan saya. Beda medan perjuangan.
Apa yang Anda lakukan untuk mengisi waktu luang?
Baca dan menulis.
- April 21, 2009
- del.icio.us
- Web reactions
- 0 Comments


