M. Ichsan Loulembah (Konsultan Politik)
Tahun 2009 adalah tahun pesta demokrasi Indonesia. Dari pemilihan legislatif hingga presiden, akan dilangsungkan di Tahun Kerbau ini. Beragam atribut partai berwarna-warni menghias jalan daerah di Indonesia. Termasuk, iklan TV, radio, dan lainnya, yang bertujuan membentuk citra positif para calon. Namun, siapa sangka, di balik itu semua ada seorang konsultan politik yang 'bertanggung jawab'. Seperti apa sebenarnya profesi ini? Adirama Gemmy mengulik salah satu dari mereka.
Tolong deskripsikan profesi ini!
Ini adalah profesi yang memadukan dua keterampilan, politis dan public relation--termasuk kemampuan marketing. Konsultan politik bukan hanya 'memasarkan' orang dan partai, tapi juga ide. Seperti, bagaimana cara memasarkan 'change' pada kampanye Obama, memproyeksikan, serta mempublikasikan visinya. Profesi ini juga bukan sekadar mengantarkan orang (klien) untuk menjadi terpilih. Yang lebih penting adalah setelah ia terpilih.
Jadi, profesi ini bersifat berkelanjutan?
Bisa iya, seperti para konsultan Obama yang kemudian ditarik ke Gedung Putih. Namun, ada juga konsultan politik yang tidak masuk dalam struktur pemerintahan (setelah klien terpilih) dan based on contract. Mereka ini biasanya tergabung dalam sebuah consulting firm dan independen.
Apa ini termasuk profesi yang baru di Indonesia?
Sebetulnya tidak. Hanya saja sekarang lebih terasa formalnya dan lebih terstruktur. Dulu, mungkin para konsultan politik hadir karena kedekatannya dengan person tertentu, belum ada bisnisnya. Tapi, sekarang mereka bisa meng-hire jasa konsultan politik. Nah, sejak keran demokrasi terbuka, persaingan partai 'memanas', muncul kesadaran untuk menggunakan jasa profesional yang dipercaya mampu membentuk pencitraan tertentu terhadap sebuah partai atau pun tokoh.
Apa bedanya profesi ini dengan tim sukses?
Tim sukses itu amatiran--dalam artian tidak dibayar--bukan profesional. Mereka bekerja berdasarkan hubungan tertentu, entah ideologi, pemujaan, kedaerahan, dan lainnya. Selain itu, tim sukses biasanya tidak objektif. Karena berdasarkan pengidolaan, mereka tidak mau memberikan penilaian buruk terhadap si calon--padahal, itu justru menjerumuskan. Sebaliknya, seorang konsultan politik harus memberikan penilaian objektif demi keberhasilan si klien.
Bagaimana finansial profesi ini?
Sangat menjanjikan karena politik Indonesia sedang memasuki era industri. Jika dulu tiap pemilihan telah dikapling-kapling (pemenangnya telah ditentukan), politik sekarang lebih terbuka. Suara rakyat itu unpredictable. Siapa sangka, seorang artis mengalahkan jenderal dalam pemilihan gubernur? Nah, suara rakyat itulah pasar yang harus direngkuh para konsultan politik dan kliennya. Kasarnya, mana bisa kita memaksa orang beli barang dagangan kita, 'kan" Untuk nominalnya, tergantung klien, seberapa sulit dan prestisiusnya daerah pemilihan. Konsultan politik yang memiliki klien di Jakarta tentu berbeda dengan yang di Solo, misalnya. Biasanya, para klien akan menginformasikan berapa besar anggaran kampanye mereka. Dari situ, baru dipilah-pilah oleh konsultan politik. Misalnya, dana kampanye Rp2 miliar, fee konsultan politik bisa mencapai 5-10 persen.
Bagaimana potensi 'pasar'-nya?
Untuk sekarang masih belum matang. Para politisi '60-an (yang aktif sekarang) itu lupa bahwa mereka hidup di jaman one man one vote. Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Anda bisa bayangkan, betapa besarnya potensi suara yang menjadi pasar konsultan politik. Belum lagi tingkat pluralitasnya. Suara rakyat di daerah A dan B sangat berbeda--padahal, mereka hanya berjarak puluhan kilometer. Artinya, begitu banyak suara rakyat yang akan 'diperebutkan' konsultan politik. Coba saja kita ambil contoh tingkat daerah. Ada sekitar 490 daerah yang menyelenggarakan pemilihan. Berarti terdapat 490 pasar untuk konsultan politik. Mungkin, dalam satu atau dua pemilihan selanjutnya profesi ini akan sangat diminati.
Apa mungkin konsultan politik memiliki dua klien atau lebih?
Boleh saja asal tidak tabrakan. Jika, misalnya, saya memegang pilkada DKI Jakarta, tak masalah jika saya juga pegang di Jawa Timur.
Apa syarat untuk menjadi konsultan politik?
Pertama, harus memiliki wawasan luas dan detail tentang daerah pemilihan yang sedang ia 'kerjakan'. Kedua, jangan pernah menjanjikan kemenangan--yang terpenting adalah bagaimana persaingan pemilihan tersebut berlangsung. Terakhir, no black campaign!
Siapa saja klien Anda?
Saya tidak bisa menyebutkannya di sini. Itu adalah permintaan klien yang harus kita jaga.
Ini adalah profesi yang memadukan dua keterampilan, politis dan public relation--termasuk kemampuan marketing. Konsultan politik bukan hanya 'memasarkan' orang dan partai, tapi juga ide. Seperti, bagaimana cara memasarkan 'change' pada kampanye Obama, memproyeksikan, serta mempublikasikan visinya. Profesi ini juga bukan sekadar mengantarkan orang (klien) untuk menjadi terpilih. Yang lebih penting adalah setelah ia terpilih.
Jadi, profesi ini bersifat berkelanjutan?
Bisa iya, seperti para konsultan Obama yang kemudian ditarik ke Gedung Putih. Namun, ada juga konsultan politik yang tidak masuk dalam struktur pemerintahan (setelah klien terpilih) dan based on contract. Mereka ini biasanya tergabung dalam sebuah consulting firm dan independen.
Apa ini termasuk profesi yang baru di Indonesia?
Sebetulnya tidak. Hanya saja sekarang lebih terasa formalnya dan lebih terstruktur. Dulu, mungkin para konsultan politik hadir karena kedekatannya dengan person tertentu, belum ada bisnisnya. Tapi, sekarang mereka bisa meng-hire jasa konsultan politik. Nah, sejak keran demokrasi terbuka, persaingan partai 'memanas', muncul kesadaran untuk menggunakan jasa profesional yang dipercaya mampu membentuk pencitraan tertentu terhadap sebuah partai atau pun tokoh.
Apa bedanya profesi ini dengan tim sukses?
Tim sukses itu amatiran--dalam artian tidak dibayar--bukan profesional. Mereka bekerja berdasarkan hubungan tertentu, entah ideologi, pemujaan, kedaerahan, dan lainnya. Selain itu, tim sukses biasanya tidak objektif. Karena berdasarkan pengidolaan, mereka tidak mau memberikan penilaian buruk terhadap si calon--padahal, itu justru menjerumuskan. Sebaliknya, seorang konsultan politik harus memberikan penilaian objektif demi keberhasilan si klien.
Bagaimana finansial profesi ini?
Sangat menjanjikan karena politik Indonesia sedang memasuki era industri. Jika dulu tiap pemilihan telah dikapling-kapling (pemenangnya telah ditentukan), politik sekarang lebih terbuka. Suara rakyat itu unpredictable. Siapa sangka, seorang artis mengalahkan jenderal dalam pemilihan gubernur? Nah, suara rakyat itulah pasar yang harus direngkuh para konsultan politik dan kliennya. Kasarnya, mana bisa kita memaksa orang beli barang dagangan kita, 'kan" Untuk nominalnya, tergantung klien, seberapa sulit dan prestisiusnya daerah pemilihan. Konsultan politik yang memiliki klien di Jakarta tentu berbeda dengan yang di Solo, misalnya. Biasanya, para klien akan menginformasikan berapa besar anggaran kampanye mereka. Dari situ, baru dipilah-pilah oleh konsultan politik. Misalnya, dana kampanye Rp2 miliar, fee konsultan politik bisa mencapai 5-10 persen.
Bagaimana potensi 'pasar'-nya?
Untuk sekarang masih belum matang. Para politisi '60-an (yang aktif sekarang) itu lupa bahwa mereka hidup di jaman one man one vote. Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Anda bisa bayangkan, betapa besarnya potensi suara yang menjadi pasar konsultan politik. Belum lagi tingkat pluralitasnya. Suara rakyat di daerah A dan B sangat berbeda--padahal, mereka hanya berjarak puluhan kilometer. Artinya, begitu banyak suara rakyat yang akan 'diperebutkan' konsultan politik. Coba saja kita ambil contoh tingkat daerah. Ada sekitar 490 daerah yang menyelenggarakan pemilihan. Berarti terdapat 490 pasar untuk konsultan politik. Mungkin, dalam satu atau dua pemilihan selanjutnya profesi ini akan sangat diminati.
Apa mungkin konsultan politik memiliki dua klien atau lebih?
Boleh saja asal tidak tabrakan. Jika, misalnya, saya memegang pilkada DKI Jakarta, tak masalah jika saya juga pegang di Jawa Timur.
Apa syarat untuk menjadi konsultan politik?
Pertama, harus memiliki wawasan luas dan detail tentang daerah pemilihan yang sedang ia 'kerjakan'. Kedua, jangan pernah menjanjikan kemenangan--yang terpenting adalah bagaimana persaingan pemilihan tersebut berlangsung. Terakhir, no black campaign!
Siapa saja klien Anda?
Saya tidak bisa menyebutkannya di sini. Itu adalah permintaan klien yang harus kita jaga.
- April 21, 2009
- del.icio.us
- Web reactions
- 2 Comments



2 Comments
#1 | amri 10:36 PM October 27, 2009
KEPADA YTH BAPAK M.ICHSAN LOULEMBAH.saya tertarik dengan komentar2 anda ttg konsultan politik sebab saya juga sekarang sedang melaukan proses menangani beberapa calon kepala daerah naumun kami merasa masi banyak kekurangan yang kami miliki untuk mengara kpa yg lebih profesional ole karenanya harapan kami kiranya abang dapat memberikan masukan atau kerjasama dalam hal tersebut.hormat kami-INDEPENDENT PUBLIC ISSUE-IPI-
#2 | ichsan loulembah 1:54 PM February 11, 2010
saya bisa dihubungi di personal email: ichanlou@hotmail.com