Film Wakil Rakyat

Monty Tiwa kembali menghadirkan sebuah film komedi. Tapi kali ini tema yang dipilih Monty berbeda dari kebanyakan tema film komedi Indonesia yang biasanya masih mengangkat tema seks. Tema pemilihan umum yang memang jarang diangkat dalam layar lebar jadi pilihan Monty untuk film barunya ini.
Menggandeng pemain seperti Tora Sudiro, Revalina S. Temat, Wiwid Gunawan, Francine Roosenda, Vincent Rompies , Jaja Miharja, Debby Sahertian, Tarzam, dan Yati Pesek, Monty mengajak penonton menyaksikan ulah para anggota partai politik dan calon legislatif yang rajin tebar pesona demi mendapatkan dukungan dan dipilih rakyat menjadi wakil mereka di parlemen nanti.
Dikisahkan nasib Bagyo (Tora Sudiro), seorang cleaning service yang
berniat menikahi Ani (Revalina S. Temat) berubah total saat ia dipinang
sebuah partai politik yang diketuai Pak Wibowo (Tarzan) untuk menjadi
caleg partai tersebut. Alasan dipilihnya Bagyo adalah ia idola baru
masyarakat karena keberhasilannya menolong Atika (Wiwid Gunawan),
seorang model yang nyaris jadi korban perampokan.
Jadi idola dan caleg ternyata tak hanya mengubah nasib Bagyo, tapi juga kisah asmaranya dengan Ani. Di mata Ani, Bagyo banyak berubah, tak lagi menjadi Bagyo yang dikenalnya. Apalagi Bagyo harus berkampanye ke sebuah tempat di Jogjakarta bernama desa Wedas Rejo, Gunung Kidul. Makin renggang lah hubungan Ani dan Bagyo.
Baygo boleh popular di Jakarta, tapi di desa Wedas Rejo masyarkatnya malah tak peduli pada sosok Bagyo, mereka justru sibuk bekerja demi hidup Bagyo harus bekerja ekstra keras untuk mengumpulkan massa. Ketika akan berkampanye, Bagyo dihadapkan pada suatu dilema; membantu seorag perempuan melahirkan atau datang ke tempat kampanye.
Pilihan tema yang memang jarang diangkat dan jeli melihat momen bisa jadi kelebihan film ini. Meski didukung oleh para pengocok perut kelas wahid, tapi bumbu humor dalam film ini masih terasa kurang dalam. Lucu, tapi terasa menggantung.
Jadi idola dan caleg ternyata tak hanya mengubah nasib Bagyo, tapi juga kisah asmaranya dengan Ani. Di mata Ani, Bagyo banyak berubah, tak lagi menjadi Bagyo yang dikenalnya. Apalagi Bagyo harus berkampanye ke sebuah tempat di Jogjakarta bernama desa Wedas Rejo, Gunung Kidul. Makin renggang lah hubungan Ani dan Bagyo.
Baygo boleh popular di Jakarta, tapi di desa Wedas Rejo masyarkatnya malah tak peduli pada sosok Bagyo, mereka justru sibuk bekerja demi hidup Bagyo harus bekerja ekstra keras untuk mengumpulkan massa. Ketika akan berkampanye, Bagyo dihadapkan pada suatu dilema; membantu seorag perempuan melahirkan atau datang ke tempat kampanye.
Pilihan tema yang memang jarang diangkat dan jeli melihat momen bisa jadi kelebihan film ini. Meski didukung oleh para pengocok perut kelas wahid, tapi bumbu humor dalam film ini masih terasa kurang dalam. Lucu, tapi terasa menggantung.
- April 2, 2009
- del.icio.us
- Web reactions
- 0 Comments


