Clear After Hours - Lifestyle Portal for Young Professional

RSS or Email Updates

In partnership with Citibank Indonesia logo

Justine Jones

Pada momen pemecahan rekornya, hanya beberapa media di Indonesia yang mengekspos. Padahal, petualangan pemuda berdarah Indonesia-Australia ini bisa dibilang fenomenal. Lewat keberhasilannya, ia berharap dapat menginspirasi orang Indonesia dalam mewujudkan impian. Kepada Adirama Gemmy, Justin menceritakan rekor ekspedisi trans-Tasman yang belum sempat terceritakan.

Justin_jamesdlm.JPG

Bagaimana ceritanya Anda bisa mengarungi trans-Tasman?
Pada 13 November 2007, saya dan James (teman sekolah Justin) berangkat mengarungi laut Australia-Selandia Baru, yang jika ditarik garis lurus panjangnya mencapai 2.200 km. Namun, di tengah pelayaran, kami terperangkap arus putar yang membuat kami memperpanjang jarak dan waktu tempuh hingga 3.318 km dan 62 hari. Padahal, kami memprediksi perjalanan ini hanya menghabiskan waktu sekitar 45 hari. Kami berhasil tiba di Selandia Baru pada 13 Januari 2008. Kami merupakan orang pertama yang berhasil mengarungi trans-Tasman.

Apa tujuan Anda melakukan itu?
Mendapatkan tantangan dan petualangan. Lewat perjalanan itu, saya juga ingin menunjukkan bahwa tak ada yang tak mungkin di dunia ini jika Anda melakukannya dengan sungguh-sungguh. Intinya adalah 'semangat'. Petualangan itu tidak harus seperti yang saya lakukan. Anda juga bisa melakukannya dalam bentuk bisnis, karier, bahkan akting. Yang ingin saya sampaikan kepada orang-orang adalah 'semangat' tersebut.

Seperti apa gambaran kondisi rute yang Anda tempuh waktu itu?
Yang pasti, ombaknya mencapai 10 meter. Selain itu, cuaca dan karakter laut di sana unpredictable. Sebelum saya, sudah sekitar empat percobaan yang dilakukan orang berbeda dan semuanya berujung pada kegagalan. Bahkan, ada satu di antaranya yang dinyatakan meninggal, meskipun hanya perahunya yang ditemukan, mayatnya tidak.

Bagaimana perasaan Anda ketika berada di tengah laut?
Takut. Saya termasuk orang yang percaya pada konsep Tuhan. Di saat itulah saya merasa sangat kecil dibanding alam ciptaan-Nya. Tapi, perjalanan tetap harus diselesaikan. Saya hanya berpikir untuk terus maju mengarungi laut itu. Saya juga sempat introspeksi melihat hidup saya yang lalu dan yang akan datang.

Berapa lama persiapan yang dibutuhkan?
Empat tahun.

Termasuk perizinan?
Kami sudah mencoba meminta izin, tapi pemerintah Australia tidak memberikan. Namun, mereka juga tidak melarang.

Apa yang Anda lakukan selain berpetualang?
Saya berprofesi sebagai motivation speaker di Australia. Dalam dua minggu, saya berpresentasi sebanyak dua kali. Saya juga banyak diminta untuk berbicara di Selandia Baru, Eropa, dan Amerika.

Bagaimana Anda menghabiskan waktu luang?
Melampiaskan hobi. Hobi saya banyak. Umumnya, yang berhubungan dengan outdoor activity.

Apa yang paling Anda suka dari Indonesia?
Keluarga, pastinya. Saya juga sangat suka makanan dan orang-orang di sini. Dan, saya cinta Bangka; pantainya sangat indah. Orang-orangnya lebih santai. Tidak seperti orang Australia yang selalu terlihat diburu-buru sesuatu.

Yang paling Anda tidak suka?
Hmm.. Indonesia memiliki banyak tempat bagus. Tapi, sayang, orang Indonesia kurang menghargainya. Saya sering melihat keindahan sebuah tempat ternodai oleh sampah berserakan. Moral seperti itulah yang sangat saya sayangkan. Kepedulian masyarakat Indonesia terhadap tanah airnya harus ditingkatkan.

Petualangan selanjutnya kira-kira seperti apa?
Hmm.. Saya sudah mempunyai beberapa rencana. Tapi, pastinya tidak di laut lagi. Cukup dengan laut. Mungkin gurun akan menarik.

Leave a Comment

RSS or Email Updates

Copyright © 2007-2010 Media Satu Group. All rights reserved. Reproduction in whole or in part without permission is prohibited.