Tonny Dwi Setiaji
Di satu sore yang cerah, minggu kemarin, redaksi Clearafterhours.com kedatangan tamu seorang Artists & Repertoire (A&R) Blackmorse, Tonny. Perawakannya kalem dan cuek, namun jangan coba-coba mengetes wawasan musiknya. Memilih duduk di pinggir warung, pria yang juga gitaris The Brandals, plus gitaris vokalis Denial ini, menjelaskan panjang lebar tentang profesi ini berikut sedikit senggolan tentang musik Indonesia kepada Adirama Gemmy, sambil ditemani dua gelas kopi susu hangat.
Bisa disebutkan apa saja jobdesc seorang A&R?
Jobdesc seorang A&R adalah
memilih band-band yang layak diproduksi. Semacam penyeleksi, karena
kita tidak ingin band yang akan diproduksi musiknya keluar dari warna
label. Kebetulan di label tempat saya bekerja sekarang ini warna
musiknya adalah indie rock.
A&R memiliki tugas menyeleksi, artinya seorang A&R adalah orang yang memiliki wawasan musik yang luas?
Seharusnya seperti itu. Tapi saya pribadi merasa belum puas, masih
ingin terus berkembang terus supaya bisa punya pengetahuan yang luas.
Bagaimana caranya Anda tahu bahwa sebuah band klik dengan label Anda?
Buat saya, kalau hanya mendengarkan materi demonya saja rasanya belum
cukup. Saya harus melihat pertunjukan mereka juga. Dengan begitu, saya
jadi tahu kalau band ini memainkan musik yang sesuai dengan soul nya
mereka. Terkadang, ada band yang di album mereka bagus, tapi di
pertunjukannya biasa saja. Zeke and The Popo dan Holly yang saat ini
bernaung di label saya juga mengalami proses yang sama, saya tetap
harus melihat performance mereka di panggung terlebih dahulu. Kebetulan
saya sudah melihat performance Zeke and The Popo dari dulu, dan kenal
para personelnya secara pribadi, jadi saya tahu mereka memainkan musik
yang sesuai dengan soul nya masing-masing personel. Holly juga tadinya
hanya memberikan demo, tapi saya tetap merasa harus melihat live
mereka. Begitu saya melihat live mereka, saya langsung jatuh cinta.
Untuk mendapatkan band-band seperti Zeke and The Popo, Holly, Anda di undang atau hunting ke acara-acara musik indie?
Saya banyak menggunakan link-link seperti di MySpace. Dari situ saya
melihat band ini darimana, Jakarta atau Bandung, lalu saya lihat jadwal
kapan mereka akan live. Saya berani menjemput bola. Saya ingin musik
Indonesia lebih berkembang dan lebih berkualitas.
Bagaimana prospek label dan musik indie di Indonesia sekarang dan ke depannya di mata Anda?
Kalau menurut saya, sudah cukup maju. Contohnya White Shoes and The
Couples Company, mereka sudah dua kali mendapat undangan dari pihak
indie di Amerika Serikat. Padahal mereka baru memiliki satu album.
Terakhir mereka manggung di New York atas undangan indie label di sana.
Nah, kalau band-band dari major label band atau band mainstream,
kebanyakan mereka menggembar-gemborkan kalau mereka sudah go
international, dengan mengadakan pertunjukan di luar negeri, padahal
yang mengundang mereka juga orang Indonesia. Sebenarnya mereka hanya
memindahkan lokasi manggung mereka dari Indonesia ke luar negeri. Ini
yang akhirnya merusak persepsi orang tentang musik indie dan musik
major, sehingga musik yang lebih laku hanya musik yang seperti itu.
Jadi media turut berperan dalam merusak musik di Indonesia?
Iya, apalagi infotainment. Semestinya infotainment itu bisa
memberikan pendidikan pada masyarakat, bukan membuat bodoh masyarakat
dengan memberitakan artis kawin-cerai. Seharusnya infotainment membuat
bad news menjadi good news dengan cara memberikan kritikan yang
akhirnya membuat orang banyak ingin tahu tentang sesuatu dan bisa
membuat orang mengeluarkan argumen yang sehat. Satu kasus bad news is
good news, waktu itu Zeke and The Popo akan launching album. Untuk bisa
masuk ke acara itu, kita memberikan pin yang dibeli seharga Rp10.000,
hitungannya itu adalah merchandise, tapi ada yang protes. Dia merasa
itu tidak masuk akal, akhirnya saya jelaskan prosedurnya, setidaknya ia
menghargai musik karya anak bangsanya sendiri. Banyak orang yang rela
membeli pertunjukan band dari luar seharga ratusan ribu, sementara
nonton band Indonesia maunya gratisan. Ini tidak akan membuat musik
Indonesia maju. Dari situ, timbul pro-kontra, dan pada saat acara
launching album Zeke and The Popo yang datang sangat banyak.
Anda punya taste musik tersendiri, sedangkan untuk menjadi seorang
A& R tentunya tidak boleh bersikap subjektif. Bagaimana Anda
menyikapinya?
Jujur, dulunya saya belum bisa memisahkan antara idealisme pribadi dan
pekerjaan. Saya baru bisa memisahkan antara keduanya beberapa tahun
belakangan ini. Cara saya memisahkan keduanya, saya harus menyimpan
idealisme saya. Saya harus sadar kalau label tempat saya bekerja adalah
tempat saya mencari uang, dan bukan milik saya pribadi. Tapi tetap ada
syaratnya, dalam merekrut sebuah band, saya tidak ingin mengambil
sebuah band yang jualan, band-band 'melayu'. Kalau nantinya label
tempat saya bekerja pada akhirnya mengambil band-band 'melayu', saya
akan mundur.
Seperti apa mekanisme sampai akhirnya sebuah band direkrut pada label Anda? Yang akhirnya memukul palu kan, bukan Anda?
Ya, saya terlebih dulu mempresentasikan sebuah band, meyakinkan pemilik
modal. Saya juga memikirkan masalah musik yang dimainkan, nanti akan
dijual kemana, berapa yang akan diproduksi, sampai strateginya. Bukan
berarti karena indie label maka akan asal mengambil band.
Penghasilan seorang A&R cukup menjanjikan?
Buat saya Alhamdulilah. Tergantung orangnya, berapa pun penghasilannya,
kalau dia boros, tidak akan pernah cukup. Buat saya, pekerjaan harus
sesuai di hati. Buat apa saya bergaji besar tapi pekerjaannya tidak
saya sukai, tidak sesuai di hati. Itu sama artinya dengan melacurkan
diri.
- December 3, 2008
- del.icio.us
- Web reactions
- 0 Comments


