Clear After Hours - Lifestyle Portal for Young Professional

RSS or Email Updates

In partnership with Citibank Indonesia logo

Soulnation: Sejarah Baru Hip-Hop Indonesia

Festival musik yang berlangsung selama dua hari (17-18 oktober) ini, berhasil menyuguhkan berbagai macam menu hip-hop anti standar, yang membuat kita seperti berada di 'reruntuhan' embrio musik kulit hitam. Tentu saja dengan berbagai macam keistimewaannya.

yackodlm1.JPG
Hari pertama, Saykoji menebar pesona melalui derapan 'kulitisasi' ala mereka. Semburan kalimat kontroversial, merajam dengan rapihnya melalui sungut vokalis utama, si sekal Igor. Dia mampu menghajar gendang telinga para fans fanatiknya, dengan notasi provokatif yang tertuai dalam beberapa liriknya. Sajian Saykoji menjadi hidangan pembuka yang cukup lezat, untuk melanjutkan perjalanan menyaksikan penampilan musisi-musisi lain. Setelah itu, pengunjung Soulnation dikejutkan oleh penampilan salah satu pionir lirik faktuil hip-hop Indonesia, Yacko. Wanita ini berhasil memborbardir telinga dengan dentuman-dentuman ajaibnya, terutama dalam hal meracik komposisi lagu. Semua materi miliknya, terdengar begitu membuai saat dibawakan di atas panggung. Penonton pun seolah enggan untuk beranjak dari tempat mereka berdiri, demi menyaksikan penampilan Yacko hingga usai. Kehadiran perempuan yang satu ini juga mampu mencuri perhatian penonton warga negara asing, yang terlihat menyebar di beberapa sudut panggung. Lagu Mendua, It's Ok dan Jalan Keluar milik Yacko, seperti semakin menasbihkan, kalau ia merupakan solois hip-hop lokal yang semakin matang serta laik bersaing menembus pasar internasional. Petualangan malam itu ditutup dengan menyaksikan aksi standar superstar yang begitu dielukan malam itu, Akon.

 neo.JPG

Perjalanan hari kedua dimulai dengan menyaksikan sajian rapper papan atas Jakarta, Faro. Penampilan Mr. Motor Lover yang satu ini sungguh memukau hati. Dia melepas lagu-lagu andalannya dengan begitu teliti dan seksama. Seakan menikam benak dan pikiran kita, dengan sebuah pertunjukan yang sarat akan makna kejujuran. Pengembaraan selanjutnya dilanjutkan dengan menyaksikan penampilan band rock n' roll lokal, Flowers. Yang menampilkan Yacko, Soul ID, Faro dan Fade 2 Black sebagai bintang tamu. Tidak ada yang istimewa dari penampilan Flowers. Band tersebut justru terlihat seperti kehilangan identitas dengan memaksakan diri tampil dalam acara hip-hop sekaliber ini. Mereka tidak pantas tampil di Soulnation. Kehadiran Flowers malah jadi mengaburkan esensi acara ini. (untungnya Yacko, Soul ID dan Faro tetap berdiri tegak di singgasananya, tidak terpengaruh oleh 'ulah buruk' Flowers.) Sungguh sebuah blunder yang harus dijadikan pelajaran agar mereka lebih berhati-hati lagi dalam memilih event. Alasannya? Sound yang digerat sang gitaris, Boris, terdengar begitu memekakkan telinga. Dia menguntai volume dengan cara yang salah. Sementara disaat yang bersamaan, suara bas dan drum selalu muncul riuh tenggelam. Beradu dengan kebisingan yang muncul dari ampli seorang DJ tamu. Yang semakin membuat suasana panggung menjadi gaduh, tidak karuan plus bising berantakan. Hal tersebut disebabkan karena ketidakjelian beliau dalam mengatur suara yang harus dikeluarkan. Walhasil, pendengaran kita dirusak secara perlahan karena ulahnya tersebut. Ditambah aura yang ditimbulkan Flowers sungguh sangat tidak mengena dengan konsep musik hip-hop. Dua pertanyaan, mengapa Boris cs harus tampil dalam event seperti ini, dan kenapa DJ tersebut harus berada di sana?

soulID.JPG

Lupakan Flowers, karena masih ada penampilan kelompok yang kehadirannya begitu ditunggu-tunggu oleh penikmat musik hip-hop lokal, Soul ID. Ternyata mereka benar-benar menyuapi kita dengan persenyawaan antara unsur audio dan visual secara luar biasa. Soul ID meleburkan rentetan rima yang terkadang terdengar seperti musik r n'b dengan balutan pop kontemporer. Rambahan eksplorasi runutan khas mereka, membuat kita tidak ingin tertinggal satu momen pun dari hidangan yang disajikan Soul ID. Hal menyenangkan tersebut terulang kembali dalam penampilan Jamie Aditya. Ia mencekoki kita dengan nada-nada absurd ala Prince yang dibubuhi dengan cengkok jazz versi Jamie. Perhelatan menarik ini ditutup dengan menyaksikan kedigjayaan Blackalicious. Yang mampu menyirap penonton dengan kebrilianan mereka dalam mempersembahkan materi-materi avant garde-nya. Banyak nama komersil yang sebenarnya tidak perlu tampil dalam acara Soulnation. Sebut saja: Dewi Sandra, RAN serta Maliq dengan proyekannya yang tidak jelas tersebut. Kalau memang kepentingannya untuk meraih benefit, dalam kenyataannya pun tidak ada penonton yang rela bergumul demi menyaksikan aksi-aksi mereka. Hal tersebut dibuktikan dengan memadatnya jumlah pengunjung saat Yacko, Soul ID dan Jamie Aditya main.

JAMIE.JPG

Sebuah hal yang patut diantisipasi pihak penyelenggara untuk penyelenggaraan event ini di tahun selanjutnya. Apapun yang terjadi, ini adalah sebuah pesta besar-besaran kaum hip hop yang patut diberi perhatian lebih oleh media lokal. Karena Soulnation terbukti mampu menoreh sejarah baru dalam musik Indonesia!

black.JPG



22 Comments

#1 | martin 3:04 PM October 20, 2008

how come? flowers bisa maen di acara ini?ga salah tuh panitia milihnya?

#2 | dilah rahman 3:44 PM October 20, 2008

kapan soul id sama yacko maen di pekanbaru? thx.

#3 | medyawati 4:27 PM October 20, 2008

emang maliq gak penting!

#4 | coezay 5:31 PM October 20, 2008

I LOVE FARO!

#5 | herry 5:45 PM October 20, 2008

long live hip hop

#6 | YORI 6:23 PM October 21, 2008

blackalicious bagus banget!jamie juga!

#7 | Hendry 3:56 AM October 22, 2008

hidup Flowers!!!!

#8 | rio 12:52 PM October 22, 2008

Pertama, gw mau ngasih salut buat penulis artikel ini yang mau mereview Soulnation nyaris utuh... Gw udh googling dengan keyword Soulnation untuk cari tau pandangan media tentang gelaran ini... Hasilnya, gw cuma nemuin tulisan yang lumayan lengkap di tempointeraktif, kompas.com, dan website ini tentunya.. Site lain cuma majang iklan, tulisan sekilas, dan bahkan cuma foto Soulnation.. Padahal ini event soul pertama di Indonesia bertaraf internasional dan sangat bersejarah (seperti judul tulisan di atas).. Kemana apresiasi media yang lain??? Gw harap kejadian ini ngga terulang pada event-event mendatang... Buat mas Krisna, keep up the good work.. Buat para artis Soulnation, lets give a big applause to Mr Krisna..

#9 | plerkodok 1:55 PM October 22, 2008

SOULNATION - Day #2, 18 Oktober 2008 - 19:00 WIBShare
Today at 1:03am
The Flowers: “Jembatan Diantara Spirit Rock N Roll dan Hip Hop”

by Buddy ACe

I Called it Hip n Roll!

Rock N Roll selalu identik dengan lirik getir yang mengungkapkan; nada protes, liukan kritik dan kemarahan absolute atas ketertindasan. Kemudian dibalut dalam nada riang nan menggetarkan.

Hip Hop pun demikian; protes, kritis dan kemarahan, dimuntahkan dalam setiap ketukan beat-beat yang akurasi temponya pas dengan repetan lirik-lirik pedis, pedih dan sarkartis.

Dan kolaborasi, bukanlah sekadar menyatukan dua atau lebih musisi di atas panggung. Jelas ini bukan soal teknis penampilan. Siapa yang duluan nyanyi di bagian mana. Yang seperti ini, cuma urusan kecil bagi kalangan professional.

Jika memandang sebuah kolaborasi antar sesama musisi dari prespektif teknis seperti yang saya sebutkan di atas, maka komentar yang muncul adalah seperti tulisan berikut ini yang dikirim ke saya via email;

“Tidak ada yang istimewa dari penampilan Flowers. Band tersebut justru terlihat seperti kehilangan identitas dengan memaksakan diri tampil dalam acara hip-hop sekaliber ini. Mereka tidak pantas tampil di Soulnation. Kehadiran Flowers malah jadi mengaburkan esensi acara ini. (untungnya Yacko, Soul ID dan Faro tetap berdiri tegak di singgasananya, tidak terpengaruh oleh 'ulah buruk' Flowers.)” By Niko Krisna Posted in Clear Feature

Sangat subyektif, meski berapi-api tapi mengesankan bahwa sang penulis melupakan esensi sebuah kolaborasi. Apalagi kolaborasi antar dua jenis musik. Membahasnya secara teknis pasti akan menmukan kesulitan melihat benang-merahnya. Tapi jika melihatnya dari sudut pandang spirit of musical, maka mesti yang dicermati adalah seberapa efektif kolaborasi itu dalam menyampaikan pesan, setidaknya sebuah pesan singkat.

Coba lagi baca tulisan yang berikut ini dari penulis yang sama;
“Sungguh sebuah blunder yang harus dijadikan pelajaran agar mereka lebih berhati-hati lagi dalam memilih event. Alasannya? Sound yang digerat sang gitaris, Boris, terdengar begitu memekakkan telinga. Dia menguntai volume dengan cara yang salah. Sementara disaat yang bersamaan, suara bas dan drum selalu muncul riuh tenggelam. Beradu dengan kebisingan yang muncul dari ampli seorang DJ tamu. Yang semakin membuat suasana panggung menjadi gaduh, tidak karuan plus bising berantakan. Hal tersebut disebabkan karena ketidakjelian beliau dalam mengatur suara yang harus dikeluarkan. Walhasil, pendengaran kita dirusak secara perlahan karena ulahnya tersebut. Ditambah aura yang ditimbulkan Flowers sungguh sangat tidak mengena dengan konsep musik hip-hop. Dua pertanyaan, mengapa Boris cs harus tampil dalam event seperti ini, dan kenapa DJ tersebut harus berada di sana?” Nicko Krisna Posted in Clear Feature.

Malam itu, saya berdiri tepat di tengah dan di barikade. Selain untuk mendapatkan sound yang balanced, sekaligus agar bisa mengambil gambar dalam ekpresi terbaik penampilan The Flowers in Collaborations.

Sound yang katanya memekakkan telinga?
Bagi jurnalis yang kerap meliput berbagai event music di Istora Senayan, baik musisi local maupun dari mancanegara, pastilah mafhum dengan kondisi akustik gedung yang jauh dari memadai. Pantulan suara memang bisa terdengar berulang-ulang sehingga mengganggu kuping. Kecuali, jika bagian langit-langit gedung ditutup dengan kain parasut.

Artinya, dalam soal sound, sesungguhnya apa yang disajikan oleh The Flowers in Collaborations tak ada yang overload. Malah, dalam scene rock n roll, justru Boris dan kawan-kawan sedikit menurunkan alter ego mereka agar bisa harmoni dengan sound dari turn table DJ ditambah dengan repetan suara Faro, Yacko, Soul ID dan Fade 2 Black.

Bahkan, apa yang mereka sajikan adalah resultansi antara dua kutub musical dengan ekspresi yang soulfully!

Tak terlihat saling mendominasi. Mereka sangat kolaboratif. Demikian pula pada pemilihan lagu pamungkas dari yang diambil dari track IWA K, bertajuk ‘Kram Otak’ serta lagu ‘Jemu ‘ by Koes Plus, sebagai upaya kompromi The Flowers dalam kolaborasinya dengan Faro.

Setidaknya, dalam soal reportoar, ada upaya proporsional dalam pemilihan lagu. Satu lagu Flowers dan satu lagu dari kolaborator. Padahal, dalam rundown panitia, jelas yang menjadi head liners adalah The Flowers, namun dengan rendah hati, mereka membagi porsi yang sama, seperti kata saya, tak ada kesan saling mendominasi.

Itu soal teknis. Secara esensial, apa yang dilakukan oleh The Flowers in Collaborations, sesungguhnya bukanlah murni sebagai ide musical semata. Ada upaya baik dari pihak penyelnggara maupun dari para musisi itu sendiri, untuk menghadirkan suguhan yang memberikan efek “gemes” dan efek “penasaran”.
Dalam industri hiburan ini penting… karena ada pasar yang dibidik.

Apalagi jika melebar sedikit ke wilayah public. DImana genre Rock N Roll yang notabene tumbuh dan hidup di kalangan menengah bawah, sementara genre Hip Hop meski lahir dari arus bawah, namun popularitasnya bisa mnyentuh lapisan menengah atas bahwa membuahkan solidaritas komunitas yang amat kental.

Nah, malam itu The Flowers in Collaborations berhasil memadukan dua segmentasi kelas atau pasar musik yang berbeda itu dalam sebuah spirit yang sama dan sebangun. Spirit Solidarity!. Then i called it, HIP N ROLL.

Kalo ada yang ingin saya pertanyakan adalah, apakah The Flowers in Collaborations itu hanya sebatas performances di panggung Soulnation 2008 saja?
Kenapa tidak menindak-lanjutinya menjadi sebuah paket musikal yang bisa meng-Indonesia?

Setelah sukses di Main Stage Soulnation 2008, tak ada salahnya mengemas kolaborasi itu, tentu dengan pesan yang lebih kental lagi; “Sebuah solidaritas antar musisi yang bertujuan mencapai solidaritas antar suku, bangsa, agama dan antar golongan yang beragam adanya di tanah air ini. Tidakkah ini bermanfaat bagi segenap penduduk negeri?

Itulah "jembatan" yang dibutuhkan oleh bangsa ini dari para musisi di tanah air,m termasuk The FLowers, Faro, Yacko, Soul ID dan Fade 2 Black.

Sesungguhnya, inilah esensi dari sebuah kolaborasi antar sesama musisi dari dua kutub musikal yang berbeda. Bukan soal teknis semata… seperti yang ditulis dengan subyektif oleh Krisna di atas.

#10 | The Flowers 2:09 PM October 22, 2008

hi krisna salam kenal ..
Gw boris gitaris flowers yang untaian volume gitarnya lo anggap terlalu brisik hehe .. :P
thx berat buat kritiknya ..
sebagai jawaban dari kritik dari pihak kami, ini gw lampirikan tulisan dari seorang wartawan bernama buddy ace yang gw ambil dari sebuah forum di facebook .. terimakasih .. :)

SOULNATION - Day #2, 18 Oktober 2008 - 19:00 WIBShare
Today at 1:03am
The Flowers: “Jembatan Diantara Spirit Rock N Roll dan Hip Hop”

by Buddy ACe

I Called it Hip n Roll!

Rock N Roll selalu identik dengan lirik getir yang mengungkapkan; nada protes, liukan kritik dan kemarahan absolute atas ketertindasan. Kemudian dibalut dalam nada riang nan menggetarkan.

Hip Hop pun demikian; protes, kritis dan kemarahan, dimuntahkan dalam setiap ketukan beat-beat yang akurasi temponya pas dengan repetan lirik-lirik pedis, pedih dan sarkartis.

Dan kolaborasi, bukanlah sekadar menyatukan dua atau lebih musisi di atas panggung. Jelas ini bukan soal teknis penampilan. Siapa yang duluan nyanyi di bagian mana. Yang seperti ini, cuma urusan kecil bagi kalangan professional.

Jika memandang sebuah kolaborasi antar sesama musisi dari prespektif teknis seperti yang saya sebutkan di atas, maka komentar yang muncul adalah seperti tulisan berikut ini yang dikirim ke saya via email;

“Tidak ada yang istimewa dari penampilan Flowers. Band tersebut justru terlihat seperti kehilangan identitas dengan memaksakan diri tampil dalam acara hip-hop sekaliber ini. Mereka tidak pantas tampil di Soulnation. Kehadiran Flowers malah jadi mengaburkan esensi acara ini. (untungnya Yacko, Soul ID dan Faro tetap berdiri tegak di singgasananya, tidak terpengaruh oleh 'ulah buruk' Flowers.)” By Niko Krisna Posted in Clear Feature

Sangat subyektif, meski berapi-api tapi mengesankan bahwa sang penulis melupakan esensi sebuah kolaborasi. Apalagi kolaborasi antar dua jenis musik. Membahasnya secara teknis pasti akan menmukan kesulitan melihat benang-merahnya. Tapi jika melihatnya dari sudut pandang spirit of musical, maka mesti yang dicermati adalah seberapa efektif kolaborasi itu dalam menyampaikan pesan, setidaknya sebuah pesan singkat.

Coba lagi baca tulisan yang berikut ini dari penulis yang sama;
“Sungguh sebuah blunder yang harus dijadikan pelajaran agar mereka lebih berhati-hati lagi dalam memilih event. Alasannya? Sound yang digerat sang gitaris, Boris, terdengar begitu memekakkan telinga. Dia menguntai volume dengan cara yang salah. Sementara disaat yang bersamaan, suara bas dan drum selalu muncul riuh tenggelam. Beradu dengan kebisingan yang muncul dari ampli seorang DJ tamu. Yang semakin membuat suasana panggung menjadi gaduh, tidak karuan plus bising berantakan. Hal tersebut disebabkan karena ketidakjelian beliau dalam mengatur suara yang harus dikeluarkan. Walhasil, pendengaran kita dirusak secara perlahan karena ulahnya tersebut. Ditambah aura yang ditimbulkan Flowers sungguh sangat tidak mengena dengan konsep musik hip-hop. Dua pertanyaan, mengapa Boris cs harus tampil dalam event seperti ini, dan kenapa DJ tersebut harus berada di sana?” Nicko Krisna Posted in Clear Feature.

Malam itu, saya berdiri tepat di tengah dan di barikade. Selain untuk mendapatkan sound yang balanced, sekaligus agar bisa mengambil gambar dalam ekpresi terbaik penampilan The Flowers in Collaborations.

Sound yang katanya memekakkan telinga?
Bagi jurnalis yang kerap meliput berbagai event music di Istora Senayan, baik musisi local maupun dari mancanegara, pastilah mafhum dengan kondisi akustik gedung yang jauh dari memadai. Pantulan suara memang bisa terdengar berulang-ulang sehingga mengganggu kuping. Kecuali, jika bagian langit-langit gedung ditutup dengan kain parasut.

Artinya, dalam soal sound, sesungguhnya apa yang disajikan oleh The Flowers in Collaborations tak ada yang overload. Malah, dalam scene rock n roll, justru Boris dan kawan-kawan sedikit menurunkan alter ego mereka agar bisa harmoni dengan sound dari turn table DJ ditambah dengan repetan suara Faro, Yacko, Soul ID dan Fade 2 Black.

Bahkan, apa yang mereka sajikan adalah resultansi antara dua kutub musical dengan ekspresi yang soulfully!

Tak terlihat saling mendominasi. Mereka sangat kolaboratif. Demikian pula pada pemilihan lagu pamungkas dari yang diambil dari track IWA K, bertajuk ‘Kram Otak’ serta lagu ‘Jemu ‘ by Koes Plus, sebagai upaya kompromi The Flowers dalam kolaborasinya dengan Faro.

Setidaknya, dalam soal reportoar, ada upaya proporsional dalam pemilihan lagu. Satu lagu Flowers dan satu lagu dari kolaborator. Padahal, dalam rundown panitia, jelas yang menjadi head liners adalah The Flowers, namun dengan rendah hati, mereka membagi porsi yang sama, seperti kata saya, tak ada kesan saling mendominasi.

Itu soal teknis. Secara esensial, apa yang dilakukan oleh The Flowers in Collaborations, sesungguhnya bukanlah murni sebagai ide musical semata. Ada upaya baik dari pihak penyelnggara maupun dari para musisi itu sendiri, untuk menghadirkan suguhan yang memberikan efek “gemes” dan efek “penasaran”.
Dalam industri hiburan ini penting… karena ada pasar yang dibidik.

Apalagi jika melebar sedikit ke wilayah public. DImana genre Rock N Roll yang notabene tumbuh dan hidup di kalangan menengah bawah, sementara genre Hip Hop meski lahir dari arus bawah, namun popularitasnya bisa mnyentuh lapisan menengah atas bahwa membuahkan solidaritas komunitas yang amat kental.

Nah, malam itu The Flowers in Collaborations berhasil memadukan dua segmentasi kelas atau pasar musik yang berbeda itu dalam sebuah spirit yang sama dan sebangun. Spirit Solidarity!. Then i called it, HIP N ROLL.

Kalo ada yang ingin saya pertanyakan adalah, apakah The Flowers in Collaborations itu hanya sebatas performances di panggung Soulnation 2008 saja?
Kenapa tidak menindak-lanjutinya menjadi sebuah paket musikal yang bisa meng-Indonesia?

Setelah sukses di Main Stage Soulnation 2008, tak ada salahnya mengemas kolaborasi itu, tentu dengan pesan yang lebih kental lagi; “Sebuah solidaritas antar musisi yang bertujuan mencapai solidaritas antar suku, bangsa, agama dan antar golongan yang beragam adanya di tanah air ini. Tidakkah ini bermanfaat bagi segenap penduduk negeri?

Itulah "jembatan" yang dibutuhkan oleh bangsa ini dari para musisi di tanah air,m termasuk The FLowers, Faro, Yacko, Soul ID dan Fade 2 Black.

Sesungguhnya, inilah esensi dari sebuah kolaborasi antar sesama musisi dari dua kutub musikal yang berbeda. Bukan soal teknis semata… seperti yang ditulis dengan subyektif oleh Krisna di atas.


#11 | anti 12:19 AM October 23, 2008

Tulisan dari krisna diatas merupakan kritik buat the flowers..tapi ada baiknya para pembaca juga menyimak sudut pandang dari wartawan/penulis yang lain seperti yg ada pada alamat dibawah ini (supaya lebih fair :) ) :

http://www.tempo.co.id/hg/panggung/2008/10/22/brk,20081022-141450,id.html

http://entertainment.kompas.com/read/xml/2008/10/18/e105942/tinggal.hari.ini.soulnation.2008

http://www.thejakartapost.com/news/2008/09/30/diana-krall-ashanti-all-jazz-coming-jakarta-october.html

#12 | john doe 5:37 AM October 23, 2008

kenapa DJ tersebut harus berada di sana?

#13 | nicko krisna 10:29 AM October 23, 2008

Halo Boris dan Buddy Ace yang saya hormati. Saya sangat berterimakasih atas respon yang kalian berikan, terhadap tulisan saya. Maafkan jika terdapat banyak kalimat yang menyinggung perasaan kalian. Untuk pembaca clearafterhours, disarankan menyimak jawaban dari Mr. Boris dan bung Buddy Ace. Agar kalian bisa menilai secara obyektif dan lebih fair, seperti yang dikemukakan oleh Anti. (jangan lupa juga untuk mengunjungi link yang telah diberikan oleh Anti) Terimakasih banyak semuanya! :)

#14 | shaytheglow 6:14 PM October 23, 2008

Gw udah baca 3 link yang dikasih sama Anti. Concert report Soul Nation yang paling komplit adalah yang di tulis sama Nicko Krisna -- lebih dalam, detail, greget & jujur. Gw bosan sama tulisan2 yang bermain 'aman' yang masih banyak digunain media-media kita. Lebih enak baca tulisan yang jujur, kalo bagus dibilang bagus, kalo jelek dibilang jelek.

#15 | Claudia HG 9:26 PM October 23, 2008

Ah.. Gue bukan penggemar hip-hop, jadi gue ngga bisa komentar deh mana yang memekakkan telinga mana yang engga..

But I really love this article. Very veryyy subjective. Buat yang reply-nya agak panas.. Ahem.. Om, inilah serunya jurnalisme online. Berita objektif udah ngga ada lagi serunya hehe.. Justruuu.. ketidaksependapatan lah yang bikin berita internet jadi seru buat dibaca boi!

Oh.. By the way, we're talking about music here, boi. Semua masalah selera... Kalau ga subjective, u'll end up reporting statistics like numbers of people coming to this event, siapa promotornya, tujuan acara.. And that is nothing but "basi".

Marilah kita dukung gerakan "Internet sebagai tempat terbaik untuk mengomentari orang seenak jidat!"

Yihaa!

#16 | shaytheglow 12:37 PM October 24, 2008

Bener banget Odi. Berita yang di tulis untuk apapun itu, sebaiknya ya apa adanya, sesuai sama yang penulis rasakan. Memang pendapat & selera orang beda-beda. Tapi itu privillage si penulis & medianya. Kalau bisa berita yang jujur itu jangan di internet aja, di majalah juga gitu dong. Gw bakal ngefans berat sama media yang bisa nampilin realitas, misalnya review CD, film, resto baru, dll, pembaca di kasih tau bagus jeleknya. Jadi kita nggak ketipu or kekurangan informasi.

#17 | bung 8:01 PM January 27, 2009

ah, menurut gw musik itu nikmati pake hati. bukan dinikmati berdasarkan kritik orang2 yg merasa jago menganalisa si a bagus atau tidak main musiknya..
so, persetan semua perang kata2 diatas ini..

#18 | dade 8:12 AM January 28, 2009

wow...baru ini gw membaca seorang mengulas musik dengan kritik yang cukup mendalam tanpa melihat essensi musikalitasnya terlebih dahulu. kalau kita tidak membuang essensi selera musikalitas jelas terlihat bahwa kaum yang memiliki isme tertentu akan merasa terganggu ketika dia mengulas sebuah event besar seperti soulnation. saya lihat link video yang dikirim oleh saudara Boris dan ternyata rangkuman kolaborasi antara The Flowers dan Soul I.D sepertinya tidak merusak sama sekali essensi Event ini. Justru saya melihat sebuah Musical Spirit yang sangat atraktif. Kenapa Justifikasi bertendensi kebisingan sound dan merusak essensi Event? bukankah Soul berakar dari Kultus Individu Bermusik ala Blues and Rock 'n' Roll?
Tulisan Sdr Nicko Krisna memang memiliki akurasi tulisan yang baik dan jujur, namun saya melihat kritik akan rusaknya essensi event terlihat kabur apabila tidak diimbangi oleh sebuah persepsi musikalitas dilain pihak, kenapa kita harus melihat sudut jeleknya saja? bagusnya boleh dong, toh audience ngga pulang gara2 kolaborasi ini, sungguh sulit memang kalau kita mau melinai dari sudut pandang tertentu. maaf bukan sok pintar yah, ini bukan sebuah resensi musik.
So akhir kata, biarkan musik itu berbunyi dan berkata, seperti pernah saya bilang ke Boris kira2 15 tahun yang lalu " Music is a Language", kita bisa berbeda lirik bahasa, namun groove, note, rhythm dan terutama soul bermain ngga bisa berbeda. Thanks udah mau share n baca....Love Peace n Happiness......

#19 | faisal 10:44 PM January 31, 2009

itu orang yang namanya krisna itu dulunya gak ngederin RUN DMC atau Beastie Boys kali ya, chk chk chk gak abis pikir gw sama elu Krisna, gw dah liat video flowers di soulnation, gw anak rock'n rol tulen, tapi gw respect sama hip hop, elu tau gak kalo dulu RUN DMC Kolaborasi sama Aerosmith trus Anthrax kolaborasi sama Public Enemy, gak usah bangga lu jadi anak hip hop, hip hop genre baru, masih ijo banget, lu liat aja deh di negeri asalnya setelah RUN DMC, BODY COUNT, ONYX, ICE T, WU TANG CLAN, CYPRES HILL,PUBLIC ENEMY hip hop tuh udah jadi musik sampah, show off dengan bling2nya, video klip penuh dengan perek2 negro, dan sama sekali TIDAK BERKELAS. gak ada musik yang abadi selain musik rock'n roll dan elu anak hip hop harus nyadar, tolong elu gali roots hip hop itu dari mana, jangan jadi poser atau tau hip hop secara instant.

#20 | suginem 11:43 AM February 18, 2009

epen run dmc called it king op rok

yu now why ?

bikos hip hop or what eper de name is new rok n rol

dig it prom history boi

that is what aprika bambaataa said to mi

#21 | udien 1:08 PM February 27, 2009

kapan nEh hip hOp medan ditampilin

#22 | ikhsan 2:22 AM May 24, 2009

berisik lah kalian semua.... hargai karya orang.... buat bung Nicko... jurnalistik juga ada tata krama nya bos.... yg baca byk... mengkritik itu harus yg membangun bukan mencela saja.... gw jamin lu kalo di suruh tampil juga ga kan bisa kaya kolaborasi the flowers dgn musik hip hop.... itu karya bos... pakai otak bikinnya juga.... coba hargai...

Leave a Comment

RSS or Email Updates

Copyright © 2007-2010 Media Satu Group. All rights reserved. Reproduction in whole or in part without permission is prohibited.