Akhirnya, bioskop kita tidak lagi didominasi film-film luar negeri. Judul film berbahasa Indonesia kini silih berganti terpampang di gedung-gedung Cineplex. Simak perbincangan Syahida Taher dengan Salman Aristo, penulis skenario film
Ceritakan awal ketertarikan Anda di dunia film.
Sejak umur 5 tahun. Persis ketika pertama kali diajak ke bioskop. Setelah itu, saya menggilai film. Sampai akhirnya saya menemukan kalau ternyata saya juga bisa menulis untuk film. Dan, makin ke sini saya makin sadar kalau film adalah medium seni yang sangat lengkap menangkap dinamisasi dunia.
Kapan mulai terlibat dalam sebuah produksi film?
Awalnya ketika menjadi tim cerita film 30 Hari Mencari Cinta. Setelah itu, baru mulai menulis langsung sebagai penulis skenario.
Belajar menulis skenario dari mana?
Otodidak. Belajar dari buku dan film tentunya.
Seperti apa bentuk sebuah naskah film?
Skenario adalah story told by moving pictures. Jadi, bahasanya adalah bahasa visual. Membuatnya dengan kesadaran. Ini adalah arena visual. Itulah yang membedakan skenario film dengan naskah teater, misalnya. Bentuknya pun khas. Ada scene yang berisikan deskripsi ruang dan waktu, gerakan, dan ada dialog.
Apakah skenario Anda berhak diutak-atik oleh produser/sutradara?
Dalam proses developing film ada yang namanya triangle system. Di situ, skenario digodok dan dimatangkan oleh produser, sutradara, dan penulis. Jadi, bukan diacak-acak, tapi dikembangkan menjadi lebih baik.
Apakah ada sistem royalti, seperti pada novel?
Kalau di Hollywood sepertinya ada. Tapi, kayaknya buat penulis-penulis besar aja. Semuanya tergantung negosiasi. Kalau di sini, setahu saya belum ada yang dapat royalti. Setau saya, lho.
Bagaimana prospek seorang penulis skenario di masa perfilman Indonesia yang sedang bangkit seperti sekarang?
Lumayanlah sebagai sebuah profesi. Yang masih perlu ditingkatkan justru kesadaran penulis skenario terhadap hak-hak mereka. Sekarang, kebutuhan untuk terbentuknya asosiasi cukup tinggi.
Berapa banyak koleksi film Anda? Yang mana yang masuk Top 5?
Baru sekitar 800-an. Top 5? Saya lebih senang menyebut kreatornya. Antara lain film-filmnya Akira Kurosawa, Stanley Kubrick, Wong Kar Wai, Asrul Sani, Teguh Karya, Woody Allen, Richard Linklater, Abbas Kiarostami, dll. Masih banyak lagi. Banyak orang hebat di dunia sinema.
Apa tips untuk menjadi penulis naskah film?
Yang paling pokok adalah kecintaan yang luar biasa terhadap menulis dan film. Bisa juga dengan sekolah khusus. Sekarang, banyak sekali situs atau informasi tentang penulisan film.
Nama Lengkap: Salman Aristo
Tanggal Lahir: 13 April 1976
Pendidikan: Jurnalistik UNPAD
Filmografi:
Screenwriter
- Brownies, Sinemart, 2004
- Catatan Akhir Sekolah, Rexinema, 2005
- Cinta Silver, Rexinema, 2005
- Jomblo, Sinemart, 2005
- Alexandria, Rexinema, 2005
- Ayat-Ayat Cinta, MD Entertainment, 2007
- Karma, Elang Perkasa Film, 2007 [on progress]
- kambingjantan.com, Vito Production, 2007 [on progress]
- Laskar Pelangi, Miles, 2007 [on progress]
- Hari Yang Baik Untuk Amanda, Inter Film, 2008 [on progress]
- Garuda di Dadaku, Salto, 2008 [on progress]
- Super Pelangi, Salto, 2008 [on progress]
Storywriter
- Asmara Dua Diana, Winmark Pictures, 2008 [on progress]
- Party Prita, Winmark Pictures, 2008 [on progress]
Awards:
- Indonesia Film Festival 2005, Nominee for Best Screenplay of Brownies
- Indonesia Film Festival 2006, Nominee for Best Adaptation Screenplay of Jomblo
- Hubert Bal's Foundation 2006, Feature Length Script Competition Winner with Swimmer and Daughter Story.
1 Comments
#1 | renny 1:58 PM October 14, 2008
wuahh.. interview yg sgt menarik skli..
Btw, sy jg ingin mengundang mas salman sebagai pembicara di seminar yg akan diadakan di kampus sy.
Kalo boleh, tlg krm contact person untuk mas salman aristo.
Makasihh...
Sy tggu jwbnnya.