"Sahabat Jakarta" menjadi sapaan yang dua tahun terakhir kerap saya ucapkan saat membawakan program Friends N The City di salah satu stasiun televisi. Sapaan tersebut memang saya maksudkan dari hati untuk menyapa para sahabat yang bukan sekadar teman atau orang baru yang saya kenal.
Para Sahabat Jakarta ini menjadi sahabat diskusi yang berbagi inspirasi mereka mengenai masalah hidup sehari-hari. Bahkah, ada satu episode berjudul Nurturing Friends yang membahas fenomena susahnya menjaga dan memelihara persahabatan dengan dinamika kehidupan di kota besar, seperti Jakarta.
Ironisnya, di saat saya mendapatkan banyak hal baru dalam ruang obrolan antarsahabat di layar kaca tersebut, saya juga mendapatkan banyak SMS berisi keluhan dari sahabat-sahabat di dunia nyata saya—yang sudah hampir tidak pernah bertemu lagi atau bahkan SMS-nya jarang terbalaskan. Isi SMS-nya, mulai dari yang masih terasa ada perhatiannya, atau mulai dibumbui sindiran, sampai tamparan blak-blakan:
Segitu sibuknya, Pak!
Ke mana aja loe?!
Duh, susahnya nyari loe!
Masih idup loe?
Apa harus bikin janji dulu buat sekadar ngobrol sama loe?!
Dan, yang paling juara adalah SMS dari sahabat saya yang bukan bertanya “Are you OK?”, tapi “Are we OK?”
Saya sempat berpikir lama untuk mencerna SMS tersebut. Kemudian, saya putuskan menelepon sang pengirim. Rupanya, SMS tersebut ditulis karena dua SMS sebelumnya tidak dibalas oleh saya. Dia pun berpikir ada sesuatu di antara kami. Hmm...
Artikel ini sebetulnya lebih sebagai self-talk, dalam upaya untuk lebih memahami apa yang terjadi sebenarnya. Di satu sisi, saya memang berupaya sebisa mungkin menjadi sahabat berbagi dan berdiskusi untuk banyak orang melalui media. Namun, kenyataan di sisi lainnya, saya sendiri sudah (merasa) tidak punya waktu lagi untuk ngopi dan ngobrol santai bersama sahabat-sahabat saya.
Awalnya, saya menganggap ini hal yang wajar, dan bukan masalah besar. Namun, kemudian saya juga menyadari bahwa keyakinan tersebut bisa salah dan memiliki dimensi lain, yang baru saya pahami.
Pertama, saya pikir yang namanya sahabat pasti akan mengerti kondisi sahabatnya. Jadi, kalau saya tidak membalas SMS, saya pikir sahabat saya akan memahaminya. Paling tidak (saya berpikir dan berharap) mereka akan menduga-duga dengan sendirinya bahwa saya tidak sempat membalas. Saat saya menulis artikel ini, saya tersadarkan bahwa pengertian ‘antarsahabat’ seharusnya datang dari kedua belah pihak. Si sahabat pasti juga berpikir dan berharap bahwa sudah semestinya SMS-nya dibalas. Mungkin memang tidak perlu sampai satu SMS berbalas satu SMS. Namun, paling tidak upaya untuk saling memahami datang dari kedua pihak.
Kedua, awalnya saya sangat percaya bahwa sahabat sejati adalah sahabat yang tidak lekang oleh zaman. Jadi, walau sudah lama tidak ada kontak, perasaan dan tingkat kedalamannya tidak akan berubah. Kesalahan besar saya yang kedua ini terkait dengan ‘meng-eksak-kan’ manusia beserta hubungan yang ada di antara manusia itu. Siapa yang bisa memastikan bahwa persahabatan tidak akan berubah walau tidak kontak sekian lama? Beberapa hubungan persahabatan mungkin benar demikian, namun ada juga yang tidak. Kalau memang ternyata persahabatan tersebut ‘bubar jalan’ karena tidak pernah ada kontak, apakah dengan entengnya kita lantas bilang, "Oh, ternyata dia bukan sahabat sejati saya”?
Ketiga, persahabatan akan lebih menyenangkan buat saya bila dilakukan karena keinginan, bukan keharusan. Namun, saat saya tidak memaksa diri untuk menyempatkan membalas semua SMS yang masuk, keinginan sahabat-sahabat saya untuk meneruskan persahabatan juga bisa saja ‘bubar jalan’. Bila demikian, filosofi Harus versus Ingin yang selama ini saya dengung-dengungkan bisa saja ‘bermutasi’ menjadi harus melakukan sesuatu karena ingin mempertahankan hal-hal yang lebih besar lagi. Jadi, bisa saja keharusan untuk membalas SMS disebabkan keinginan untuk menjaga hubungan persahabatan. Tantangannya, tinggal bagaimana melakukan sesuatu yang ‘harus’ tersebut tanpa terkesan terpaksa dan basi.
Keempat, konon hidup dipenuhi banyak pilihan. Jadi, apakah saya memilih untuk kehilangan sahabat-sahabat saya? Dengan lugas saya jawab, “Tidak!” Bukan karena saya serakah dengan menginginkan semuanya dalam hidup saya, namun saya sangat sadar bahwa kehadiran sahabat sangatlah berarti. Jika demikian, apakah saya egois dengan tidak mau kehilangan sahabat, namun juga tidak berupaya mempertahankannya?
Enam ratusan kata sudah saya tuliskan di atas. Saat saya baca kembali, saya jadi berpikir, apakah saya think too much? Buat Anda yang tidak bermasalah dalam membangun dan menjaga persahabatan, bisa saja menganggap saya berlebihan. Namun, buat yang mengalami seperti yang saya alami, Anda bisa merasakan bahwa hal-hal tersebut bukan menjadi sesuatu yang sepele untuk diberi perhatian.
Daftar jejaring kerja dan kenalan saya bisa saja berderet selama setahun terakhir. Dan, saya bisa menyebutkan sekian banyak nama yang memang terkenal di mata banyak orang. Namun, apakah saya kemudian merasa lebih berbahagia menjalani hidup di kota besar, seperti Jakarta ini, dengan memproklamasikan bahwa saya kenal nama-nama besar tersebut? Dengan segenap respek saya pada mereka-mereka yang telah punya ‘nama’, saya tahu pasti bahwa ada sejumlah nama yang menduduki ‘posisi-posisi’ penting dalam hidup saya. Mereka-mereka itu adalah orang-orang yang tetap ada di saat saya susah, orang-orang yang bisa membuat saya tertawa, dan orang-orang yang membuat saya merasa berarti.
Dan, semakin tersadarkanlah saya bahwa yang namanya persahabatan bukanlah sekadar memiliki orang-orang tersebut dalam hidup kita, namun juga berupaya agar kita berada dalam daftar orang lain; entah sebagai si shoulder to cry on, si pelawak, si penyimpan rahasia, ‘si gokil’, atau lain-lainnya.
Saya paham sekarang. Maafkan saya sahabat-sahabatku, dan terima kasih untuk telah berada dalam daftar penting saya. Bukan menjadi satu keharusan untuk saya juga bisa berada dalam daftar kalian, namun menjadi satu keinginan.
Alexander Sriewijono - yang berusaha menjadi sahabat yang baik buat para sahabatnya.